Jumat , 08 December 2017, 03:01 WIB

Rusia: Trump Memperumit Hubungan Palestina-Israel

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Esthi Maharani
Voa news
Palestina-Israel bentrok setelah pernyataan Trump
Palestina-Israel bentrok setelah pernyataan Trump

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Kementerian Luar Negeri Rusia menunjukkan kekhawatirannya terhadap pernyataan sepihak Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Kementerian Luar Negeri Rusia menilai tindakan Trump sebagai perubahan kebijakan yang membahayakan kestabilan kondisi di Timur Tengah.

"Posisi baru AS terkait Yerusalem berisiko memperumit hubungan warga Palestina-Israel ke depan dan juga kondisi di wilayah tersebut secara keseluruhan," ungkap Kementerian Luar Negeri Rusia dalam pernyatan resmi daring seperti dilansir The Moscow Times.

Kementerian Luar Negeri Rusia juga meminta semua pihak untuk menahan diri dari tindakan yang bisa memicu konsekuensi yang tak terduga. Dengan tegas, Kementerian Luar Negeri Rusia juga menyatakan bahwa posisi mereka terharap konflik Palestina-Israel tidak berubah. Rusia tetap menginginkan agar Palestina-Israel menyelesaikan masalah dengan damai.

"Menjamin Israel dalam batas yang diakui secara internasional, sambil memperhatikan aspirasi warga Palesitina untuk (memiliki) negara sendiri yang merdeka," tegas Kementerian Luar Negeri Rusia.

Dalam pernyataan tersebut, Kementerian Luar Negeri Rusia juga mempertimbangkan solusi Yerusalem untuk menjadi ibu kota bagi Palestina dan Israel. Solusi ini membagi Yerusalem menjadi dua bagian, di mana bagian timur Yerusalem menjadi ibu kota Palestina di masa depan dan bagian barat Yerusalem menjadi ibu kota Israel.

Kontroversi mulai merebak setelah Trump membuat pernyataan resmi terkait Yerusalem pada Rabu (6/12). Dalam pernyataan tersebut, Trump secara tegas mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Isrel. Trump juga menyatakan rencana pemindahan Kedutaan Besar AS ke Israel.