Jumat , 08 December 2017, 08:18 WIB

MUI: Trump Menjadi Musuh Bersama

Red: Teguh Firmansyah
AP/Alex Brandon
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Hal ini disampaikannya di Gedung Putih, Washington DC, Rabu (6/12) waktu setempat atau Kamis (7/12) WIB.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Hal ini disampaikannya di Gedung Putih, Washington DC, Rabu (6/12) waktu setempat atau Kamis (7/12) WIB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keputusan Presiden AS, Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, dan memindahkan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem terus mendapat penolakan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah secara tegas menolak hal ini, bahkan menyerukan dunia dan negara Islam bersatu melawan Trump. "Pemerintahan dunia dan negara negara Islam diminta untuk melakukan aksi nyata untuk melawan dan menentang Donald Trump yang rasialis," kata Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri, KH. Muhyidin Junaidi, Jumat (8/12).

Sikap Donald Trump ini telah membuat banyak negara muak. Bahkan AS pun berpotensi jadi musuh bersama atas sikap Trump ini. Sebab menurutnya, dunia saat ini sudah menyepakati perdamaian dua negara antara Israel dan Palestina.

Namun kebijakan Trump soal Yerusalem tersebut, dianggapnya menjadi sebuah pelanggaran berat atas kesepakatan dunia di United Nation/PBB.

Kesepakatan tentang penyelesaian konflik Arab-Isreal dengan Two state solution. "Umat islam dunia jelas mengutuk keras kebijakan yg bertujuan untuk menafikan semua upaya perdamaian sejak dahulu," tegasnya.

Perlu dipahami bersama, kebijakan AS itu juga mendorong eskalasi baru. Aksi kekerasan dan ektremisme di dunia, bukan hanya di dunia Islam. Karena itu bisa jadi menurutnya hal inilah yang diinginkan AS, memuncukkan kekerasa dan ekstrimisme dunia.

"Itu wajah asli AS yang sejak dulu berpihak kepada Israel yang telah mengusir, membunuh dan merampas hak-hak bangsa Palestina sejak satu abad lalu," ujar Muhyidin.

Ia mengatakan Trump sendiri, saat ini sebenarnya sedang terancam posisinya di dalam negeri AS.  Hal ini terkait upaya impeachment karena penyelidikan pemilihan presiden lalu yang berhubungannya dengan Russia.

Karena itu menurutnya, sikap Trump ini disinyalir sebagai upaya untuk mengurangi tekanan politik domestik usai koleganya Mr. Flyn ditetapkan sebagai tersangka oleh FBI dalam kasus Russian connection itu.