Jumat , 08 Desember 2017, 08:35 WIB

Kristen Ortodoks Minta Bantuan Putin Terkait Putusan Trump

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Teguh Firmansyah
EPA/Alexey Nikolsky
Vladimir Putin
Vladimir Putin

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Pengakuan Amerika Serikat terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel akan mengancam umat Kristen Ortodoks di kota suci tersebut. Pekan ini, Patriark Yunani di Yerusalem meminta Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk membantu menghadapi Israel.

Para petinggi gereja Orthodox Yunani di Yerusalem melakukan kunjungan lima hari ke Moskow sejak Senin lalu. Mereka bertemu Putin dan sejumlah pendeta senior untuk menyampaikan kekhawatiran mereka.

Patriark Theophilus III melihat ancaman dari Israel pada gereja-gereja di Tanah Suci. Ia meminta Putin ikut campur dalam urusan ini. Ancaman muncul dari kesepakatan penyewaan properti gereja pada pihak Yahudi.

Menurutnya, Israel mengincar properti gereja-gereja di Koa Tua untuk dijadikan properti Yahudi. Jika Yerusalem benar-benar menjadi ibu kota Israel, maka ancaman bisa menjadi kenyataan. Umat Kristen akan kehilangan tanah-tanah mereka.

Modusnya, properti yang dimiliki gereja dibeli atau disewa oleh pihak swasta anonim. Diketahui baru-baru ini bahwa pihak pembeli atau anonim merupakan pihak Yahudi.

Properti ini termasuk dua hotel yang terletak antara Jaffa Gate dan pintu masuk pasar Kota Tua. Tempat ini merupakan bagian paling terlihat dari wilayah Kristiani.

Kesepakatan penyewaan tersebut terbilang kontroversial kala itu. Hingga pada Agustus lalu, pengadilan distrik ikut menegakkan kesepakatan dan membuat petinggi gereja sebelumnya, Irenaeus diturunkan.

Theophilus sebagai pengganti pun maju untuk melawan kesepakatan pengadilan ke Mahkamah Agung. Dengan didukung oleh seluruh gereja di Tanah Suci, ia berkunjung ke sejumlah pihak untuk meminta bantuan melawan kesepakatan penyewaan. Termasuk pada Raja Yordania, Paus, Uskup Agung Canterbury, dan tokoh politik senior di Yunani juga Siprus.

Di Moskow ia melobi Putin dan kepala gereja-gereja Ortodoks Timur. Theophilus mengaku khawatir bahwa Knesset (parlemen Israel) akan meloloskan perintah penyitaan tanah mereka yang telah dijual pada pihak swasta.

"Langkah tersebut sebagai upaya pemerintah Israel yang tidak dapat diterima. Hal ini berarti pemerintah campur tangan dalam hak gereja menangani secara bebas properti mereka sendiri," ujarnya seperti dilansir Times of Israel, kemarin.

Selama musim panas lalu, diketahui bahwa properti Ortodoks seperti gereja dijual pada pengusaha anonim. Wilayah itu kini sudah dibangun 1.500 rumah dan disewakan. Tidak jelas siapa pemiliknya.

Rumor yang beredar, properti itu kini dimiliki oleh Yahudi. Pasalnya, semua investor adalah perusahaan Yahudi dan pemilik saham utamanya termasuk David Sofer, seorang pengusaha Israel yang tinggal di London.

Selain itu, ada perumahan dan apartemen yang dulu dimiliki gereja dibeli oleh Yahudi via Nayot Komemiyut Investments Israel. Tanah itu ada di wilayah Yerusalem termasuk Givat Oranim (sekarang dimiliki David Sofer milyuner Michael Steinhardt melalui Oranim Ltd.), Abu Tor (Sofer juga pemilik jalan di sana bersama dengan seorang pengusaha Yahudi melalui perusahaan Kronty Investments Ltd) dan di Talbieh, Rehavia, Nayot.

Bulan lalu, Komite Eksekutif World Council of Churches yang mewakili lebih dari 560 juta umat Kristen di 100 wilayah juga mengeluarkan pernyataan kuat. Mereka menyampaikan ada kekhawatiran gereja di Yerusalem terancam sebagai akibat dari kombinasi kontrak legalitas yang disengketakan, upaya kelompok pemukim radikal, dan kebijakan Pemerintah Israel.