Kamis 14 Dec 2017 01:15 WIB

OKI Sebut Langkah AS Akui Yerusalem Perburuk Keamanan

Red: Nur Aini
Presiden Joko Widodo (Jokowi) ditemani Ibu Negara dan sejumlah Menteri Kabinet Kerja tiba di Istanbul,Turki. Jokowi akan ikut serta dalam KTT luar biasa OKI, Rabu (13/12l) waktu setempat.
Foto: dok. Rusman - Biro Pers Setpres
Presiden Joko Widodo (Jokowi) ditemani Ibu Negara dan sejumlah Menteri Kabinet Kerja tiba di Istanbul,Turki. Jokowi akan ikut serta dalam KTT luar biasa OKI, Rabu (13/12l) waktu setempat.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menyatakan langkah Pemerintah Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel memperburuk kondisi keamanan wilayah.

"Pernyataan AS ini hanya akan membawa kondisi yang lebih buruk keamanan kawasan," kata Ketua OKI yang juga Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat memimpin Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTTLB) OKI di Istanbul, Turki, Rabu (13/12).

Ia menyebutkan keputusan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel merupakan keputusan yang membakar sesuatu yang berdampak buruk. "Saya mengajak semua menyatakan bahwa sikap AS ini tidak tepat," katanya.

Ia menyebutkan sejak 1947, peta Palestina semakin menyempit karena Israel terus melakukan ekspansi wilayahnya. "Ini kondisi di lapangan hari ini. Apapun yang dilakukan Israel sejak 1947, terus terjadi sampai saat ini. Ini tidak bisa diterima sama sekali. Tentara teroris menangkap dan membunuh anak dan memukuli ibu yang mencoba menyelamatkan anaknya dari gagang senapan. Apa ini kalua bukan terorisme?" ujar Erdogan.

Ia menyebutkan Israel terus melakukan pendudukan, pembunuhan dan Israel mendapatkan penghargaan atas semua itu yang diteguhkan oleh Presiden AS. "Ada sekian negara di bawah PBB yang harus bergerak bersama. Anda mungkin punya misil, jet tempur dan sebagainya untuk perang. Tetapi itu tidak diperlukan untuk menunjukkan bahwa anda benar," ucapnya, menegaskan.

Menurut Erdogan, tanpa memberikan solusi dalam masalah Timur Tengah maka tidak akan membawa kestabilan perdamaian dan kesejahteraan di kawasan. "Ini situasi di mana perlu perhatian besar bersama untuk masa depan bersama. Jelas sekali, bahwa apa yang dilakukan AS ini melanggar aturan internasional," tuturnya.

Menurut dia, Yerusalem merupakan kota penting bagi orang Kristen juga. Keputusan yang dibuat AS sangat disesalkan. "Kita tidak bisa lagi bersikap netral menghadapi perkembangan di Yerusalem ini. Atau kita akan menjadi pendukung aksi kekerasan terhadap rakyat Palestina. Kita harus membuat Palestina menjadi negara yang lebih kuat dalam diplomasi internasional," ujarnya.

Dia mengatakan semua harus memobilisasi seluruh kekuatan yang ada atas nama Yerusalem. "Kita meminta AS menarik keputusannya yang provokatif dan tidak benar ini. Saya mengajak semua negara Islam mengambil tanggung jawab ini demi perdamaian dunia," kata Erdogan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement