Monday, 3 Jumadil Akhir 1439 / 19 February 2018

Monday, 3 Jumadil Akhir 1439 / 19 February 2018

Erdogan: Turki Bakal Buka Kedubes di Yerusalem Timur

Selasa 19 December 2017 06:45 WIB

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Andi Nur Aminah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Foto: PA-EFE/KAYHAN OZER

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Turki bermaksud untuk membuka kedutaan di Yerusalem Timur, Palestina. Hal ini diungkapkan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Ahad (17/12) beberapa hari setelah Erdogan memimpin sebuah konferensi pemimpin Muslim agar dunia mengenali Yerusalem sebagai ibu kota Palestina. Namun, masih belum jelas bagaimana dia akan melakukan tindakan tersebut.

Pasalnya, saat ini Israel mengendalikan seluruh Yerusalem dan menyebut kota itu sebagai ibu kota yang tak terpisahkan. Sementara, warga Palestina menginginkan ibu kota sebuah negara masa depan yang mereka inginkan berada di Yerusalem Timur, yang diambil Israel dalam perang 1967 dan kemudian dianeksasi dalam sebuah tindakan yang tidak diakui secara internasional.

KTT Muslim pun diadakan sebagai tanggapan terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump pada tanggal 6 Desember untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Langkah Trump ini berbeda dari kebijakan AS dan konsensus internasional bahwa status kota harus diserahkan pada perundingan damai Israel-Palestina.

Erdogan mengatakan dalam sebuah pidato kepada anggota Partai AK-nya di provinsi selatan Karaman bahwa konsulat jenderal Turki di Yerusalem sudah diwakili oleh seorang duta besar. "Insya Allah, hari sudah dekat saat peresmiannya, dengan izin Tuhan, kita akan membuka kedutaan kita di sana," kata Erdogan seperti dikutip Reuters.

Yerusalem, yang dipuja oleh orang-orang Yahudi, Kristen dan Muslim, adalah rumah bagi tempat suci tersuci ketiga Islam serta Tembok Barat Yudaisme - keduanya di sektor timur - dan telah menjadi jantung konflik Israel-Palestina selama beberapa dekade. Kedubes asing di Israel, termasuk Turki, berada di Tel Aviv, mencerminkan status Jerusalem yang belum terselesaikan.

Sebuah keputusan dikeluarkan setelah pertemuan puncak hari Rabu yang dihadiri lebih dari 50 negara Muslim, termasuk sekutu AS. Negara-negara Muslim sepakat mengatakan bahwa mereka menganggap langkah Trump sebagai sebuah deklarasi bahwa AS telah menarik diri dari perannya sebagai sponsor perdamaian di Timur Tengah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Pembangunan Proyek Tol Cinere-Jagorawi

Senin , 19 February 2018, 20:00 WIB