Jumat 30 Oct 2015 19:44 WIB

Tak Kuat Biaya Nikah, Pria Saudi Pilih Kawin Kontrak

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Ani Nursalikah
Para ahli mengatakan semakin banyak orang Arab Saudi yang memilih melakukan pernikahan 'misyar' dengan alasan biaya.
Foto: saudi gazette
Para ahli mengatakan semakin banyak orang Arab Saudi yang memilih melakukan pernikahan 'misyar' dengan alasan biaya.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Para ahli mengatakan semakin banyak orang Arab Saudi yang memilih melakukan pernikahan 'misyar' dengan alasan biaya.

Misyar merupakan jenis pernikahan kontrak yang biasanya dilakukan secara adat Islam dengan ketentuan pasangan menyerahkan hak tertentu dari pernikahan normal. Hal itu misalnya, hidup bersama, hak istri untuk tempat tinggal dan hak suami untuk mengurus rumah tangga.

Konsultan keluarga, Nasser Al-Thubaiti mengatakan kebanyakan laki-laki muda tidak memiliki sarana untuk menikah sementara sebagian besar perempuan muda memiliki harapan tinggi terhadap pernikahan mereka.

Ia mengatakan, tingkat perceraian meningkat dan tingkat poligami menurun. Sebab, sekarang semakin banyak para petugas pernikahan bersedia menandatangani kontrak pernikahan misyar.

"Ini adalah cara bagi pria untuk menikah tanpa memiliki kewajiban mahar dan membiayai keluarga," ujarnya dikutip dari Saudi Gazette, Kamis (29/10).

Sultan Al-Saleem, seorang petugas pernikahan mengatakan banyak pertunangan dibatalkan dan sedang menjadi tren. Ia menuturkan ada beberapa alasan yang menyebabkan kegagalan tersebut.

Salah satunya pasangan yang tidak terbuka tentang kondisi mereka di awal perjanjian. Menurutnya, pria biasanya tidak mampu membayar mahar atau biaya pernikahan dan membuat putusnya pertunangan.

"Alasan lain adalah ketika orang tua memaksa anak perempuannya menerima seorang pria yang bertentangan dengan keinginan anaknya," katanya.

Pernikahan yang dipaksakan ini menciptakan ketegangan dan ketidakbahagiaan dalam suatu hubungan. Hal tersebut diakui Saleem membuat perceraian cepat terjadi.

Ia menambahkan, dalam beberapa kasus pasangan setuju untuk menikah karena saling tahu satu sama lain tapi terkejut dengan fakta dan perilaku yang tidak sesuai.

Banyak pria menjadi tidak sabar atau tempramental selama atau setelah pertunangan mereka. Dalam beberapa kasus, pasangan dipaksa membatalkan pernikahan karena mereka tidak dapat menyelesaikan dokumen resmi pernikahan kepada para petugas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement