Selasa , 12 September 2017, 19:16 WIB

HRW: Saudi Lakukan Kejahatan Perang di Yaman

Red: Teguh Firmansyah
Reuters
Kondisi wilayah di Sanaa, Yaman, akibat perang antara milisi Houthi dan pendukung Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Kondisi wilayah di Sanaa, Yaman, akibat perang antara milisi Houthi dan pendukung Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Lembaga pemantau hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW) pada Selasa menuding koalisi pimpinan Arab Saudi yang berperang di Yaman, melakukan kejahatan perang.

Lembaga itu mengatakan, serangan udara sekutu tersebut telah menewaskan 39 warga, termasuk 26 anak-anak sepanjang dua bulan.

Mereka mengungkapkan, lima serangan udara sekutu Teluk, yang menghancurkan rumah milik empat keluarga dan sebuah toko bahan makanan, dilakukan sengaja atau tidak bertanggung jawab. Hal itu menyebabkan kematian warga dan melanggar hukum perang antarbangsa.

Sekutu berulang kali membantah tudingan kejahatan perang dan mengatakan, serangan mereka sepenuhnya menyasar gerakan bersenjata Houthi dan bukan warga.

Yaman sedang dilanda perang saudara. Pemerintah yang didukung koalisi Saudi bertempur dengan kelompok Houthi. Houthi memiliki pengaruh dan akar cukup kuat di Yaman. Sejumlah laporan menyebut Houthi didukung oleh Iran.

"Janji berulang dari sekutu pimpinan Arab Saudi untuk menggelar serangan udara sesuai dengan aturan ternyata tidak membuat anak-anak di Yaman aman dari serangan tidak bertanggung jawab itu," kata Sarah Leah Whitson, direktur HRW untuk kawasan Timur Tengah, dalam pernyataan tertulis.

"Hal ini membuat PBB perlu untuk segera memasukkan koalisi dari daftar para pelanggar aturan perang karena membunuh anak-anak dalam perang," kata dia.

Pada 4 Agustus, pesawat koalisi membombardir sebuah rumah di Saada, sehingga menewaskan sembilan orang anggota keluarga, termasuk di antaranya enam anak berusia antara tiga sampai 12 tahun.

"Pada 3 Juli, sebuah serangan udara menewaskan delapan anggota keluarga di Provinsi Taiz, termasuk sang ibu dan anak perempuan yang baru berusia delapan tahun," kata HRW.

HRW mengaku sudah mewawancara sembilan anggota keluarga dan sejumlah saksi yang mengalami lima serangan udara antara 9 Juni sampai dengan 4 Agustus. Mereka tidak menemukan adanya target militer potensial di dekat lokasi kejadian.

Sumber : Antara