Senin , 02 Oktober 2017, 10:59 WIB

Respons Referendum Kurdi, Militer Iran-Irak Latihan Bersama

Rep: Marniati/ Red: Elba Damhuri
Aljazeera
Seorang pria Kurdi menaiki kuda dan membawa bendera mendukung referendum di Erbil, Irak.
Seorang pria Kurdi menaiki kuda dan membawa bendera mendukung referendum di Erbil, Irak.

REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD--- Tentara Iran dan Irak akan mengadakan latihan gabungan di beberapa titik penyeberangan di perbatasan wilayah otonom Kurdistan. Pengumuman ini muncul di tengah makin meningkatnya ketegangan setelah sebuah referendum kemerdekaan etnis Kurdi Irak dihelat dan hampir 93 persen pemilih mendukung keluar dari Baghdad

"Latihan militer gabungan ini akan diadakan dalam beberapa hari mendatang di sepanjang perbatasan," kata Juru Bicara Militer Masoud Jazayeri, setelah sebuah pertemuan tingkat tinggi para komandan Iran digelar seperti dilansir Aljazirah, akhir pekan ini.

Dalam pertemuan tersebut, integritas teritorial dan kesatuan Irak --tidak sahnya referendum kemerdekaan-- ditekankan lagi. Keputusan penting diambil untuk memberikan dan menjamin keamanan di perbatasan serta menyambut pasukan pemerintah pusat Irak untuk mengambil posisi di penyeberangan perbatasan.

Tentara Irak pada Selasa pekan lalu mengambil bagian dalam latihan militer dengan pasukan Turki yang dekat dengan perbatasan Irak. Turki menjadi negara yang juga kena imbas referendum Kurdi dan secara tegas menolak keras kemerdekaan yang diinginkan kaum Kurdi.

Pemerintah Daerah Kurdistan (KRG) menolak untuk menyerahkan kontrol penyeberangan perbatasannya kepada pemerintah Irak, seperti yang diminta oleh Irak, Iran, dan Turki sebagai pembalasan atas referendum tersebut. Kementerian pertahanan Irak menegaskan pihaknya berencana menguasai perbatasan dalam koordinasi dengan Teheran dan Ankara.

Pada Jumat pekan lalu, Irak memberlakukan larangan penerbangan internasional ke wilayah Kurdi, memerintahkan maskapai asing untuk menunda perjalanan ke bandara di kota-kota di Erbil dan Sulaimaniya. Teheran telah bekerja sama dengan Baghdad dalam membangun tekanan pada orang-orang Kurdi Irak, terutama dengan memotong semua penerbangan ke dan dari wilayah tersebut menjelang pemungutan suara.

Irak juga melarang pengangkutan produk minyak sulingan oleh perusahaan Iran ke dan dari Kurdistan Irak. Beberapa produk lain juga dilarang masuk wilayah Kurdi. Isolasi ekonomi dipandang efektif oleh trio Irak, Iran, dan Turki dalam meredam keinginan etnis Kurdi merdeka dari Irak.


Berita Terkait