Rabu , 20 September 2017, 10:16 WIB

Inggris Diduga Jual Senjata ke Arab untuk Perang Yaman

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Agus Yulianto
Reuters
Tentara Arab Saudi berjaga di perbatasan Yaman.
Tentara Arab Saudi berjaga di perbatasan Yaman.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Perusahaan-perusahaan Inggris dilaporkan berhasil meraup keuntungan ratusan juta dolar dengan menjual senjata ke Arab Saudi. Penjualan dilakukan selama perang yang sedang berlangsung di Yaman.

Lembaga amal anak-anak War Child mengungkapkan, sejak koalisi pimpinan Arab Saudi memulai intervensinya di Yaman, perusahaan senjata Inggris termasuk BAE systems dan Raytheon, telah memperoleh pendapatan melebihi 8 miliar dolar AS dari transaksi dengan Arab Saudi. Transaksi ini menghasilkan keuntungan yang diperkirakan mencapai hampir 775 juta dolar AS.

Namun, pemerintah Inggris hanya menerima pajak perusahaan sebesar 40 juta dolar AS. "Angka penerimaan pajak ini sangat kecil untuk biaya ribuan anak-anak yang terbunuh, terluka, dan kelaparan akibat konflik yang didukung oleh perdagangan ini," kata laporan War Child.

Koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi dibentuk pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman dalam memerangi pemberontak Houthi yang didukung Iran. Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 10 ribu orang dan telah melukai lebih dari 40 ribu orang sampai saat ini.

Dalam tiga tahun terakhir, Inggris telah menyetujui lisensi ekspor senjata ke Arab Saudi senilai 4,7 miliar dolar AS, termasuk pesawat Tornado, yang sebagian diproduksi oleh BAE systems. Selain itu, ekspor juga termasuk kendaraan lapis baja Tactica BAE systems senilai 580 ribu dolar AS serta granat dan bom senilai 1,48 miliar dolar AS.

Sejak saat itu, Arab Saudi telah terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam konflik di Yaman. Negara ini menghadapi tuduhan kejahatan perang dan pelanggaran lainnya.

Menurut War Child, Inggris mendapatkan pajak perusahaan senjata sebesar 18 juta dolar AS pada 2016. Namun, di tahun yang sama Inggris telah menghabiskan 187 juta dolar bantuan kemanusiaan ke Yaman.

Pada Juli, Campaign Against Arms Trade (CAAT) menyerukan agar penjualan senjata Inggris ke Arab Saudi dihentikan karena masalah kemanusiaan. Kelompok bantuan kemanusiaan juga menuduh Arab Saudi memblokir bantuan ke daerah yang paling membutuhkan.