Ahad , 19 November 2017, 16:39 WIB

Liga Arab Gelar Pertemuan Darurat Bahas Iran

Rep: dyah ratna meta novia/ Red: Ani Nursalikah
AP
Sidang darurat Liga Arab.
Sidang darurat Liga Arab.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Para menteri luar negeri Liga Arab mengadakan pertemuan darurat di Kairo pada Ahad (19/11). Mereka membahas cara-cara melawan campur tangan Iran dalam urusan negara lain di wilayah regional.

Pertemuan darurat Liga Arab dilakukan atas permintaan Arab Saudi, didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Kuwait. Pertemuan itu akan dihadiri Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul Gheit.

Pertemuan tingkat menteri tersebut akan didahului dengan pertemuan Komite Menteri Arab untuk Intervensi pada Urusan Internal Arab yang terdiri dari Arab Saudi, Mesir, UEA dan Bahrain. Permintaan Saudi dilakukan setelah milisi Houthi yang menguasai Yaman mengirimkan rudal balistik ke Riyadh pada 4 November.

Saudi menuding Iran memasok rudalnya ke Houthi. Sebuah ledakan dan tembakan juga terjadi di pipa minyak Bahrain, Jumat lalu. Iran juga disalahkan atas peristiwa tersebut.

Seperti dilansir Arab News, akhir-akhir ini, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) menuduh Iran melakukan agresi militer langsung melawan Saudi dengan cara memasok rudal balistik kepada milisi Houthi di Yaman. Dalam sebuah memo yang meminta pertemuan tersebut, Saudi menyebutkan sejumlah pelanggaran yang dilakukan Iran.

Berbagai pelanggaran yang dilakukan Iran di wilayah Arab dinilai melemahkan keamanan dan perdamaian, tidak hanya di wilayah Arab, tapi juga di seluruh dunia. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Saudi Adel Al-Jubeir mengatakan negaranya memiliki hak menanggapi tindakan bermusuhan Iran.

Melalui akun Twitternya, dia juga mengatakan, campur tangan Iran di wilayah tersebut merugikan negara-negara tetangga, perdamaian dan keamanan internasional. "Iran memproduksi rudal balistik yang ditembakkan oleh milisi Houthi Yaman ke ibu kota Saudi. Dari sisa-sisanya menunjukkannya tanda-tanda buatan Iran," kata pejabat tertinggi Angkatan Udara Amerika Serikat di Timur Tengah, Jumat lalu.

Menteri Luar Negeri Bahrain Sheikh Khaled bin Ahmed Al-Khalifa melalui Twitternya mengatakan, Iran adalah bahaya nyata bagi wilayah tersebut. Al-Khalifa juga menyalahkan Iran atas ledakan pipa di negaranya tersebut. "Upaya untuk meledakkan pipa Saudi-Bahrain adalah eskalasi berbahaya dari  Iran yang bertujuan untuk meneror warga negara dan untuk menyakiti industri minyak dunia," katanya.

 

Berita Terkait