Senin 27 Nov 2017 05:58 WIB

Mahasiswa RI di Mesir Diminta Berhati-hati

Rep: Muhammad Iqbal/ Red: Elba Damhuri
 Sebuah gambar ambil yang diambil dari rekaman video menunjukkan orang-orang dan ambulans menunggu untuk mengevakuasi korban di luar masjid yang diserang di kota utara Arish, Semenanjung Sinai, Mesir, Jumat (24/11).
Foto: EPA/Stringer
Sebuah gambar ambil yang diambil dari rekaman video menunjukkan orang-orang dan ambulans menunggu untuk mengevakuasi korban di luar masjid yang diserang di kota utara Arish, Semenanjung Sinai, Mesir, Jumat (24/11).

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Dewan Pengurus Pusat Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Mesir melansir surat edaran kepada seluruh ketua organisasi kekeluargaan, almamater, dan afiliatif selepas serangan teroris di Kota al-Arish, Sinai Utara, Jumat (24/11) waktu setempat. Dalam surat edaran bernomor 02-A10/DPP-PPMI/XXIII/XI/1439/2017, mahasiswa RI di Mesir diminta untuk berhati-hati.

Presiden PPMI Mesir Pangeran Arsyad Ihsanulhaq mengatakan, lokasi kejadian yang memakan lebih dari 300 korban tewas itu berjarak sekitar 300 kilometer dari Kota Kairo. Sinai Utara pun sangat jauh dari pusat konsentrasi mahasiswa Indonesia di Mesir, yaitu Kairo dan Alexandria.

\"Mahasiswa Indonesia di Mesir berada dalam kondisi aman dan tidak ada yang menjadi korban dalam aksi terorisme ini,\" ujar Pangeran dalam surat edaran, Ahad (26/11). Menurut dia, dalam merespons aksi terorisme yang diduga dilakukan kelompok ISIS, Pemerintah Mesir telah menetapkan state of emergency dan telah meningkatkan upaya-upaya untuk menjamin keamanan warga Mesir dan warga asing di Mesir.

Pangeran mewakili PPMI Mesir kemudian menyampaikan sejumlah imbauan kepada seluruh mahasiswa Indonesia di Mesir. Mahasiswa diharapkan tidak bepergian ke daerah yang dianggap rawan, terutama Sinai Utara dan daerah di sekitarnya.

"Tetap tenang dan waspada di mana pun berada," katanya.

Jika ingin bepergian, Pangeran mengimbau hal itu tidak dilakukan sendiri-sendiri. Mahasiswa perlu menerapkan buddy system, yaitu bepergian dengan setidaknya berdua sebagai pencegahan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Imbauan lain dari PPMI Mesir yang tidak kalah penting adalah selalu mengikuti instruksi Kedutaan Besar RI di Kairo mengenai perkembangan keamanan yang terjadi di Mesir.

Terkait kondisi terkini, Pangeran mengatakan, kondisi Mesir secara keseluruhan saat ini berada dalam kondisi aman dan stabil. Hal tersebut sebagaimana situasi sebelum serangan teroris tersebut. "Namun, memang saat ini Mesir sedang menetapkan state of emergency dan ini sudah berlangsung sejak April 2017 dalam upaya menjaga keamanan nasional,\" ujar Pangeran yang juga mahasiswa al-Azhar ini.

Sekretaris Pertama Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Kairo Ninik Rahayu atas nama KBRI Kairo mengimbau kepada seluruh WNI yang berdomisili di Mesir untuk mengambil langkah-langkah antisipatif dan preventif selepas serangan mematikan seusai shalat Jumat itu.

Langkah-langkah tersebut antara lain membawa tanda pengenal yang masih berlaku, khususnya fotokopi paspor dan izin tinggal. "Bagi yang izin tinggalnya akan berakhir agar segera memperpanjang izin tinggalnya serta mengantisipasi adanya razia yang dilakukan oleh aparat keamanan Mesir," kata Ninik.

KBRI Kairo juga mengimbau seluruh WNI untuk menunda rencana perjalanan ke luar kota, khususnya daerah Sinai Utara dan sekitarnya hingga situasi keamanan lebih kondusif. "Sekiranya melakukan perjalanan ke luar kota, diharapkan dapat mewaspadai pemeriksaan di checkpoint yang lebih ketat," ujar Ninik.

Dia melanjutkan, KBRI Kairo juga meminta seluruh WNI selalu waspada ketika sedang berada dalam perjalanan dengan kendaraan umum/pribadi. Jika melihat suatu benda yang mencurigakan, WNI harus menjauh dan mencari tempat yang aman.

"Selalu menjaga keutuhan, kekompakan, dan komunikasi sesama anggota masyarakat Indonesia serta senantiasa mematuhi ketentuan dan peraturan yang berlaku di Mesir," ujar Ninik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement