Kamis , 07 December 2017, 13:27 WIB

Saudi Turut Kecam Keputusan Trump

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Ani Nursalikah
Oded Balilty/AP
Beberapa orang Israel di Menara Nabi Daud, Yerusalem, Palestina Selasa (5/12).
Beberapa orang Israel di Menara Nabi Daud, Yerusalem, Palestina Selasa (5/12).

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Arab Saudi turut mengecam keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel di tengah meningkatnya kritikan internasional mengenai langkah tersebut.

Dilansir dari BBC News, Kamis (7/12), dalam sebuah pernyataan, Kerajaan Teluk tersebut mengatakan pengumuman Trump tidak dapat dibenarkan dan tidak bertanggung jawab. Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji hal tersebut sebagai hari yang bersejarah.

Langkah Presiden Trump dinilai membalikkan dekade kebijakan AS dimana nasib Yerusalem adalah salah satu masalah paling mencolok antara Israel dan Palestina.

Sebanyak delapan dari 15 negara yang saat ini tergabung sebagai anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), telah meminta badan tersebut mengadakan pertemuan mendesak mengenai keputusan Trump tersebut. Sebab, pengumuman Trump pada Rabu (6/12) menempatkan posisi AS bertentangan dengan pandangan masyarakat internasional mengenai status Yerusalem.

Palestina mengklaim Yerusalem Timur sebagai ibu kota dari sebuah negara dimasa depan. Sesuai dengan kesepakatan damai Israel dan Palestina pada 1993, status terakhir Yerusalem dimaksudkan akan dibahas dalam perundingan damai tahap akhir.

Kedaulatan Israel atas Yerusalem tidak pernah diakui secara internasional. Dan sampai sekarang semua negara telah mempertahankan kedutaan mereka di Tel Aviv.

Yerusalem Timur yang mencakup Kota Tua di Yerusalem dianeksasi oleh Israel setelah Perang Enam Hari pada 1967, namun tidak diakui secara internasional sebagai bagian dari Israel.

Trump mengatakan ia menilai keputusan tersebut untuk kepentingan terbaik Amerika Serikat, dan juga upaya perdamaian antara Israel dan Palestina. Saat ini, Trump sedang mengarahkan Pepartemen Luar Negeri AS untuk memulai persiapan dalan memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.