Saturday, 5 Sya'ban 1439 / 21 April 2018

Saturday, 5 Sya'ban 1439 / 21 April 2018

Din Sebut Amerika Ikut Rekayasa ISIS

Kamis 11 January 2018 18:40 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Teguh Firmansyah

Din Syamsuddin

Din Syamsuddin

Foto: ROL/Havid Al Vizki

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Prof Din Syamsuddin mengatakan munculnya terorisme tidak bisa digeneneralisasi karena faktor agama saja. Karena, ada faktor lain seperti sosial, ekonomi, atau pun politik.

Bahkan, ia mencontohkan, seperti gerakan  ISIS juga direkayasa oleh Amerika Serikat. "Seperti soal ISIS, banyak dokumen, banyak buku, itu juga direkayasa, itu juga dibuat-buat. Saya kira waktu saya di Amerika lihat di televisi Amerika ada pengakuan Amerika ikut merekayasa itu ada kelompok garis keras seperti itu (ISIS)," ujar Din di Gedung Oase Kabinet Kerja, Jakarta Pusat, Kamis (11/1).

Ia menuturkan, saat ada pernyataan Presiden Amerika, Donal Trump soal Yerusalem sebagai ibu kota Israel, ISIS juga tidak pernah menunjukkan kepeduliannya terhadap Palestina. Menurut dia, hal ini menunjukkan bahwa ISIS bukanlah merupakan organisasi murni Islam.

"Yang seharusnya setiap Muslim itu sangat sensitif, termasuk Kristiani, soal Yerusalem itu, itu pasti akan bereaksi. Tapi ISIS gak ada statemen apa-apa. Seperti mengecam Donald trump, seperti mengecam Israel, gak pernah ada statemen ISIS itu soal membela Palestina," ucapnya.

Sikap ISIS inilah yang membuat Din mempertanyakan soal gerakan ISIS. Menurut dia, gerakan ISIS sengaja dibuat Amerika untuk merusak citra Islam di mata dunia. "Maka ini memperkuat asumsi dan juga ada tulisan-tulisan, ada pemberitaan lain bahwa mereka dibuat untuk sengaja merusak. Nah maksud saya, terhadap terorisme itu juga dilihat, macam-macam," katanya.

Baca juga, ISIS Kalah Telak Milisi Pulang Kampung.

Mantan Ketum MUI ini juga melihat bahwa kasus terorisme yang terjadi akhir-akhir ini seakan-akan hanya di buat-buat saja untuk merusak citra Islam. Karena, hanya sedikit aksi terorisme dilakukan karena faktor ideologi. Bahkan, ia menyebut 80 persen orang Indonesia yang ikut ISIS itu karena faktor ekonomi, bukan karena ideologi. "Maksud saya, saya sejak dulu punya pendapat itu harus dipilah kasus terorisme itu," katanya.

f

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA