Senin 26 Feb 2018 17:16 WIB

Serangan Gas Tewaskan Anak di Ghouta Timur

Menurut White Helmets, beberapa wanita dan anak-anak mengalami kesulitan bernafas.

Rep: Marniati/ Red: Ani Nursalikah
Beberapa bayi memperoleh penanganan medis setelah terpapar gas beracun di Desa Shifunieh, Ghouta Timur, Suriah, Ahad (25/2).
Foto: Mohammed Badra/EPA-EFE
Beberapa bayi memperoleh penanganan medis setelah terpapar gas beracun di Desa Shifunieh, Ghouta Timur, Suriah, Ahad (25/2).

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS -- Pejabat kesehatan di daerah kantong pemberontak Ghouta Timur menuduh pasukan pemerintah Suriah menggunakan gas klorin dalam serangan pengeboman udara di pinggiran kota Damaskus.

Dilansir di Aljazirah, Senin (26/2), Pertahanan Sipil Suriah yang juga dikenal dengan nama White Helmets, mengatakan pada Ahad setidaknya satu anak meninggal akibat kehabisan tenaga. Menurut pemerintah sementara oposisi Suriah, korban menunjukkan gejala konsisten dengan paparan gas klorin beracun.

Kementerian kesehatan oposisi mengatakan dalam sebuah pernyataan beberapa orang dirawat di fasilitas medis di dekat Al-Shifoniyah. Gejalanya meliputi dyspnea, iritasi intensif pada selaput lendir, iritasi mata dan pusing. Kementerian tersebut mengatakan sedikitnya 18 orang dirawat dengan nebulizer.

Menurut White Helmets, beberapa wanita dan anak-anak mengalami kesulitan bernafas. Laporan tentang serangan gas terjadi saat pasukan Presiden Bashar al-Assad berperang melawan kelompok oposisi dalam upaya untuk menembus wilayah kantong yang terkepung tersebut.

Ghouta Timur telah berada di bawah kontrol pemberontak sejak 2013. Sejak itu, pemerintah Suriah telah memberantas pengepungan di pinggiran kota dalam upaya untuk mengusir mereka. Seorang aktivis lokal mengatakan penembakan terus-menerus pemerintah telah menewaskan setidaknya 16 warga sipil sejak Senin pagi di salah satu kota utama Ghouta Timur, Douma.

Sebanyak 10 dari mereka yang kehilangan nyawa pada Senin berasal dari keluarga yang sama. Sedikitnya 27 orang tewas pada Ahad akibat penembakan pesawat tempur Suriah yang didukung Rusia dan menargetkan berbagai distrik dan kota di pinggiran kota Damaskus.

Serangan tersebut terjadi setelah Dewan Keamanan PBB memilih dengan suara bulat sebuah resolusi dan menyerukan gencatan senjata 30 hari di Suriah. Pekan lalu, serangan udara mematikan dan tembakan artileri yang diluncurkan oleh pasukan Suriah yang didukung Rusia memperburuk krisis kemanusiaan yang mengerikan di daerah kantong yang terkepung tersebut, yang menampung sekitar 400 ribu orang.

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), lebih dari 500 warga sipil kehilangan nyawa akibat kampanye pengeboman udara yang dimulai pada 18 Februari. Awal pekan ini, PBB dan badan-badan internasional lainnya mengungkapkan kemarahan atas jumlah korban sipil. Ratusan ribu orang tewas dalam pertempuran selama tujuh tahun Suriah, dan jutaan orang terpaksa melarikan diri dari negara tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement