Sabtu 25 Sep 2021 13:41 WIB

Dunia Diminta Lindungi Pendidikan Anak Perempuan Afghanistan

Komitmen Taliban untuk menghormati hak-hak perempuan dinilai skeptis banyak pihak

Rep: rizky jaramaya/ Red: Hiru Muhammad
Mahasiswa Afghanistan terlihat di Universitas Mirwais Neeka di Kandahar, Afghanistan, 20 September 2021. Taliban secara resmi mengumumkan pada 12 September pemisahan mahasiswa pria dan wanita di semua universitas negeri dan swasta di negara itu. Institusi pendidikan diharuskan memiliki gedung terpisah untuk siswa laki-laki dan perempuan, jika tidak ada, mereka akan menghadiri kelas di gedung yang sama tetapi pada waktu yang berbeda
Foto: EPA-EFE/STRINGER
Mahasiswa Afghanistan terlihat di Universitas Mirwais Neeka di Kandahar, Afghanistan, 20 September 2021. Taliban secara resmi mengumumkan pada 12 September pemisahan mahasiswa pria dan wanita di semua universitas negeri dan swasta di negara itu. Institusi pendidikan diharuskan memiliki gedung terpisah untuk siswa laki-laki dan perempuan, jika tidak ada, mereka akan menghadiri kelas di gedung yang sama tetapi pada waktu yang berbeda

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Malala Yousafzai (24 tahun) pada Jumat (24/9) memohon kepada dunia untuk melindungi hak-hak perempuan Afghanistan, setelah Taliban kembali berkuasa. Yousafzai khawatir Taliban akan bertindak seperti yang mereka lakukan ketika berkuasa 20 tahun lalu.

“Kami tidak dapat berkompromi tentang perlindungan hak-hak perempuan dan perlindungan martabat manusia,” kata Yousafzai pada panel pendidikan anak perempuan di Afghanistan, di sela-sela Sidang Umum PBB.

“Sekarang saatnya kita berpegang teguh pada komitmen itu dan memastikan bahwa hak-hak perempuan Afghanistan dilindungi.  Dan salah satu hak penting itu adalah hak atas pendidikan,” kata Yousafzai menambahkan.

Taliban menerapkan hukum keras ketika berkuasa pada periode 1996-2001. Ketika itu, mereka melarang perempuan meninggalkan rumah tanpa didampingi kerabat laki-laki. Taliban juga melarang perempuan untuk sekolah dan bekerja. Bahkan mereka diperintahkan untuk mengenakan burqa jika keluar rumah.

Taliban kembali berkuasa setelah pasukan Amerika Serikat (AS) dan NATO meninggalkan Afghanistan. Taliban berjanji akan menghormati hak-hak perempuan dan melakukan pendekatan yang lebih moderat.

Namun komitmen Taliban untuk menghormati hak-hak perempuan dinilai skeptis oleh banyak pihak. Pekan lalu, Taliban membuka kembali sekolah menengah untuk anak laki-laki, sementara anak perempuan diminta agar tetap di rumah. Selain itu, Taliban juga meminta agar pekerja perempuan tetap di rumah hingga situasi aman.

Sekretaris jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, keinginan Taliban mendapatkan pengakuan internasional adalah satu-satunya pengaruh global untuk mendesak pemerintah yang inklusif. Termasuk menghormati hak-hak perempuan di Afghanistan.

Di antara mereka yang berbicara di PBB tentang penderitaan perempuan dan anak perempuan Afghanistan adalah Presiden Dewan Uni Eropa Charles Michel dan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez. 

 

sumber : reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement