Selasa 09 Aug 2022 08:08 WIB

AS Klaim 80 Ribu Tentara Rusia Tewas Atau Terluka di Ukraina

Korban di pihak Ukraina pun signifikan, tapi AS tak memberikan angka.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani
Seorang tentara Rusia berpatroli di sebuah area di Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Kakhovka, pembangkit listrik run-of-river di Sungai Dnieper di wilayah Kherson, Ukraina selatan, pada 20 Mei 2022. Bahkan saat mesin perang Rusia merangkak melintasi timur Ukraina, mencoba untuk mencapai tujuan Kremlin untuk mengamankan kontrol penuh atas jantung industri negara Donbas, pasukan Ukraina meningkatkan serangan untuk merebut kembali wilayah di selatan.
Foto: AP Photo
Seorang tentara Rusia berpatroli di sebuah area di Stasiun Pembangkit Listrik Tenaga Air Kakhovka, pembangkit listrik run-of-river di Sungai Dnieper di wilayah Kherson, Ukraina selatan, pada 20 Mei 2022. Bahkan saat mesin perang Rusia merangkak melintasi timur Ukraina, mencoba untuk mencapai tujuan Kremlin untuk mengamankan kontrol penuh atas jantung industri negara Donbas, pasukan Ukraina meningkatkan serangan untuk merebut kembali wilayah di selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Wakil Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Colin Kahl mengungkapkan, sekitar 80 ribu tentara Rusia telah tewas atau terluka sejak pertempuran di Ukraina pecah pada 24 Februari lalu. Kahl menyebut, korban di pihak Ukraina pun signifikan, tapi dia tak memberikan angka.

“Rusia mungkin telah kehilangan 70 atau 80 ribu korban dalam waktu kurang dari enam bulan. Itu adalah kombinasi dari terbunuh dan terluka dalam aksi. Jumlahnya mungkin bisa sedikit lebih rendah atau lebih tinggi. Tapi saya pikir itu perkiraannya,” kata Kahl, Senin (8/8/2022), dilaporkan CNN.

Baca Juga

Menurut dia, Rusia juga telah kehilangan tiga atau empat ribu kendaraan lapis baja selama pertempuran. Moskow pun disebut bisa kehabisan stok rudal berpemandu presisi, termasuk rudal yang diluncurkan dari udara dan laut. Hal itu karena Rusia telah menembakkan sebagian besar di antaranya sejak peperangan dimulai Februari lalu. “(Kerugian itu) cukup luar biasa mengingat Rusia tidak meraih tujuan tujuan (Presiden) Vladimir Putin pada awal perang,” ujar Kahl.

Kendati demikian, Kahl mengakui, Ukraina pun menderita korban cukup signifikan di medan perang. Namun dia tak mengungkap detail jumlahnya. “Perang ini adalah konflik konvensional paling intens di Eropa sejak Perang Dunia II. Namun Ukraina memiliki banyak keuntungan. Tidak sedikit di antaranya adalah keinginan mereka untuk bertempur,” ucapnya.

“Moral dan keinginan Ukraina untuk bertempur tidak perlu dipertanyakan lagi, dan saya pikir jauh lebih tinggi daripada rata-rata keinginan untuk bertempur di pihak Rusia. Jadi saya pikir itu memberi Ukraina keuntungan yang signifikan,” tambah Kahl.

Hingga kini pertempuran Rusia-Ukraina masih berlangsung. Setelah enam bulan berlalu, belum ada tanda-tanda peperangan akan berakhir lewat kesepakatan damai atau gencatan senjata. Barat lewat Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) masih terus memberi dukungan dan sokongan kepada Kiev untuk menghadapi pasukan Moskow.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement