Kamis 22 Sep 2022 10:26 WIB

Zelenskyy Optimistis Ukraina akan Menang

Mobilisasi pasukan cadangan menggambarkan Rusia tidak siap merundingkan akhir perang.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dari video berpidato di sesi ke-77 Majelis Umum PBB, di markas besar PBB, Rabu, 21 September 2022.
Foto: AP Photo/Jason DeCrow
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dari video berpidato di sesi ke-77 Majelis Umum PBB, di markas besar PBB, Rabu, 21 September 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Rabu (21/9/2022) optimistis pasukannya akan memenangkan perang dan merebut kembali setiap inci wilayah yang dikuasai Rusia. Dalam pidato video yang sangat dinanti di Majelis Umum PBB, Zelenskyy mengatakan, mobilisasi pasukan cadangan Rusia menggambarkan bahwa Kremlin tidak siap untuk merundingkan diakhirinya perang.

“Kami dapat mengembalikan bendera Ukraina ke seluruh wilayah kami. Kita bisa melakukannya dengan kekuatan senjata, tapi kita butuh waktu," ujar Zelenskyy.

Baca Juga

Zelenskyy tidak membahas perkembangan perang secara detail. Dia mengatakan, setiap pembicaraan negosiasi Rusia hanyalah taktik penundaan.

“Mereka berbicara tentang dialog, tetapi mengumumkan mobilisasi militer.  Mereka berbicara tentang negosiasi tetapi mengumumkan pseudo-referendum di wilayah pendudukan Ukraina,” kata Zelenskyy.

Zelenskky berpendapat, Moskow mempersiapkan pasukannya untuk serangan baru di Ukraina. "Rusia menginginkan perang. Itu benar, tetapi Rusia tidak akan dapat menghentikan jalannya sejarah,” katanya.

Dalam pidatonya, Zelenskyy menuntut pengadilan khusus PBB untuk menjatuhkan hukuman yang adil kepada Rusia atas invasinya ke Ukraina. Termasuk hukuman finansial dan mencabut hak veto Moskow di Dewan Keamanan.

Zelenskyy menyampaikan, pidato melalui video yang telah direkam, di hadapan para pemimpin dunia di Majelis Umum PBB pada Rabu (21/9). Pidato ini disampaikan setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan mobilisasi tentara dalam masa perang pertama Rusia sejak Perang Dunia Kedua.  

"Sebuah kejahatan telah dilakukan terhadap Ukraina, dan kami menuntut hukuman yang adil. Sebuah pengadilan khusus harus dibentuk untuk menghukum Rusia atas kejahatan agresi terhadap negara kita. Rusia harus membayar perang ini dengan asetnya," kata Zelenskyy.

Zelenskyy memaparkan lima kondisi perdamaian yang tidak dapat dinegosiasikan. Salah satunya termasuk hukuman atas agresi Rusia, pemulihan keamanan dan integritas wilayah Ukraina, dan jaminan keamanan. Para delegasi di PBB memberikan tepuk tangan meriah di akhir pidato Zelenskyy.

Sebelumnya pada Rabu, dalam pidato yang disiarkan di televisi, Putin mengumumkan langkah untuk mencaplok empat provinsi Ukraina dan mengancam akan menggunakan senjata nuklir untuk membela Rusia. Tanpa memberikan bukti, Putin menuduh para pejabat di negara-negara NATO mengancam akan menggunakan senjata nuklir untuk melawan Rusia. 

“Ketika integritas teritorial negara kami terancam, kami pasti akan menggunakan semua cara yang kami miliki untuk melindungi Rusia dan rakyat kami. Ini bukan gertakan," ujar Putin.

Penerbangan keluar dari Rusia dengan cepat terjual habis. Sementara pemimpin oposisi yang dipenjara Alexei Navalny menyerukan demonstrasi massal menentang mobilisasi masyarakat Rusia ke medan perang di Ukraina.

Rusia mengatakan, beberapa orang sudah menerima pemberitahuan panggilan perang. Sementara itu, polisi melarang kaum pria meninggalkan kota di selatan Rusia. Kelompok pemantau protes independen OVD-Info mengatakan lebih dari 1.300 orang telah ditahan dalam protes pada Rabu malam.

 

sumber : Reuters/AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement