Selasa 31 Jan 2023 15:33 WIB

Kasus Positif dan Kematian Covid-19 Terus Turun, China Yakin Pandemi Segera Berakhir

Jumlah kematian akibat Covid-19 di China turun hingga ke level terendah.

Seorang warga yang mengenakan masker mendorong kereta dorong saat dia dan seorang lagi berjalan di dekat fasilitas bergerak vaksinasi COVID-19 di Beijing.
Foto: AP/Andy Wong
Seorang warga yang mengenakan masker mendorong kereta dorong saat dia dan seorang lagi berjalan di dekat fasilitas bergerak vaksinasi COVID-19 di Beijing.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Otoritas kesehatan China merasa yakin pandemi COVID-19 segera berakhir. Hal ini seiring dengan jumlah kasus positif dan kematian yang terus menurun.

Setelah melalui penanganan pasien rawat jalan dan rawat inap, kematian akibat COVID-19 menurun hingga level terendah pada akhir Januari 2023, kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular China (CCDC) dalam jurnal yang dipantau di Beijing, dikutip Selasa (31/1/2023).

Baca Juga

Puncak gelombang terakhir COVID di negara itu terjadi pada akhir Desember 2022. CCDC lebih spesifik menyebutkan bahwa kasus positif berdasarkan hasil tes PCR mencapai rekor tertinggi pada 25 Desember hingga 29,2 persen.

Sementara itu, berdasarkan tes cepat antigen pada 22 Desember mencapai 21,3 persen. Kasus positif pada akhir Januari, baik tes PCR maupun tes antigen, menurun hingga level enam persen.

Jumlah kunjungan ke klinik demam di China, baik di perkotaan maupun perdesaan, pada akhir Januari menurun 90 persen dibandingkan dengan puncak kunjungan pada akhir Desember. Kasus parah pasien COVID yang dirawat di rumah sakit puncaknya terjadi pada 5 Januari dengan 127.594 kasus. Namun, jumlah ini terus menurun hingga 23 Januari menjadi 35.694 kasus.

Jumlah kematian akibat COVID mengalami puncaknya pada 4 Januari dengan 4.273 kasus, yang kemudian terus menurun pada 23 Januari menjadi 896 kasus. CCDC juga menganalisis bahwa Omicron subvarian BF.7 dan BA.5.2 merupakan varian yang paling dominan selama gelombang terakhir COVID. Tidak ada mutasi baru yang diidentifikasi oleh CCDC selama gelombang tersebut merebak.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement