Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Tidak Jelas Dengar Orang Bicara Termasuk Tuli Ringan

Sabtu 23 Mar 2019 07:32 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Dokter spesialis Telinga, Hidung dan Tenggorokan (THT) memeriksa telinga anak saat program kesehatan telinga Millenial Road Safety Festival Polres Lhokseumawe, di Lhokseumawe, Aceh, Ahad (10/3/2019).

Dokter spesialis Telinga, Hidung dan Tenggorokan (THT) memeriksa telinga anak saat program kesehatan telinga Millenial Road Safety Festival Polres Lhokseumawe, di Lhokseumawe, Aceh, Ahad (10/3/2019).

Foto: Antara/Rahmad
Orang yang tak bisa mendengar dengan jelas orang lain bicara bisa jadi tuli ringan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gejala gangguan pendengaran ada banyak. Tuli ringan, contohnya, dapat ditandai dengan kesulitan mendengar suara orang yang berbicara.

“Mereka yang kemampuan pendengarannya antara 30-40 desibel terkadang kalau orang berbicara, terdengarnya tidak jelas sampai minta diulang,” kata Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan-Bedah Kepala Leher dr Soekirman Soekin SpTHT-KL di Jakarta, Jumat.
 
Normalnya, pendengaran manusia dengan telinga yang sehat dapat mendengar tanpa ada batas waktu mulai dari 0 hingga 25 desibel. Di atas itu, ada batasan waktu untuk telinga mendengarkan suara yang keras agar tidak terjadi kerusakan pada organ dalam telinga.
 
Soekirman menjelaskan, suara dengan kekuatan 0 hingga di bawah 10 desibel seperti suara hembusan angin yang menyebabkan gesekan daun serta suara burung berkicau. Suara 10 sampai 20 desibel seperti suara air menetes dan bicara dengan berbisik.
 
Namun, orang dengan kemampuan pendengaran di atas 40 desibel terkadang mendengar orang lain berbicara dengan kata yang tidak beraturan. Orang dikatakan tuli sedang apabila kemampuan pendengarannya di atas 40-60 desibel, misalnya, apabila dipanggil namanya dari belakang dia tidak mendengar.

Suara dengan kekuatan 50-70 desibel, menurut Soekirman, contohnya antara lain suara bayi menangis, mesin penghisap debu, dan gonggongan anjing. Jika kemampuan pendengarannya berada pada 80 desibel, seseorang tidak dapat mendengar suara orang berbicara sehingga membuatnya hanya menerka dan membaca gerakan bibir. Kategori ini termasuk dalam tuli berat.
 
Sementara yang paling parah ialah kemampuan pendengaran di atas 80-90 desibel. Soekirman menjelaskan, kondisi itu disebut seperti hidup di ruang hampa.

"Suara dengan kekuatan antara 80-120 desibel adalah suara kendaraan bermotor, dering bel, suara helikopter, mesin pesawat, musik band, dan letusan senjata.
 
"Paling banyak kondisi kasus ketulian di Indonesia disebabkan oleh faktor usia, yaitu degenerasi sel pada organ rumah siput di dalam telinga yang membuat pendengaran berkurang," kata Soekirman.
 
Di Indonesia, 20 persen dari orang dengan usia di atas 60 tahun sudah mulai menurun fungsi pendengarannya. Namun, apabila seseorang sudah terpapar dengan suara bising terlalu sering seperti bekerja di pabrik dengan suara mesin keras, dan terlalu sering menggunakan earphone, bisa menyebabkan penurunan fungsi pendengaran di usia yang lebih muda.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA