Kamis 02 Oct 2014 22:31 WIB

Nasib Perempuan Muslim Australia Makin Sering Alami Diskriminasi

Red:
abc news
abc news

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Muslim Australia dilaporkan telah mengalami diskriminasi dan perlakuan kejam. Kondisi tak menguntungkan ini semakin meningkat akibat operasi anti-terorisme yang berlangsung di sejumlah kota besar Australia dan peningkatan status waspada teror nasional.

Para Muslimah atau perempuan Muslim yang mengenakan penutup kepala khas Islam telah menjadi target dari sejumlah aksi kebencian. Ketakutan akan ekstrimisme Islam telah mengarah pada perdebatan tentang penutup tubuh dalam Islam, seperti burka, dengan Senator Cory Bernardi dan Senator Jacqui Lambie yang meminta pelarangan pemakaian burka. Tak hanya itu, ada pula aturan baru dalam Gedung Parlemen yang melarang pemakaian penutup wajah itu dari beberapa area.

ABC berbicara kepada lima perempuan Muslim di jalanan Sydney tentang pakaian apa yang mereka kenakan dan pengalaman pribadi mereka dalam situasi politik dan sosial saat ini.

Manaya Chaouk, 27 Tahun, Pekerja Sosial dan Seorang Ibu

Manaya Chaouk.

“Apa yang terjadi dengan kebebasan ekspresi? Kebebasan beragama? Kami sudah menjadi target. Kini, Bapak Perdana Menteri justru telah menolong mereka yang fanatik dan brutal itu melampiaskan kemarahan kepada kami. Dia mencoba untuk menanamkan rasa takut pada masyarakat. Kini, orang-orang melihat saya dengan salah. Mereka berkata hal-hal konyol. Saya mendengar banyak cerita dan menyaksikan banyak kisah. Menyerang perempuan itu tak benar. Masih ada banyak rasisme. Kini, mereka yang fanatik justru keluar dari persembunyian. Saya ketakutan sekarang, kini saya selalu melihat ke belakang bahu kapanpun saya meninggalkan rumah. Itu salah. Saya tak seharusnya merasa seperti itu. Tak satupun orang yang pantas merasa seperti itu.”

Randa Jada, 32 Tahun, Akuntan dan Seorang Ibu

Randa Jada.

Saya dilahirkan di sini. Kini, saat ini semua terjadi, saya sudah banyak mendapat tatapan hina. Menurut saya itu mengkhawatirkan. Mereka orang-orang yang tidak peduli. Apa alasan mereka membenci kami? Tak ada satupun yang mau duduk di sebelah saya, orang-orang menjauhkan anak-anak mereka dari anak-anak saya, mereka tak banyak berkomunikasi dengan saya. Menyedihkan.”

Anonim, 33 Tahun, Seorang Ibu dan Mantan Sekretaris

Warga Auburn berusia 33 tahun.

“Saya memakai burka karena saya menyukainya. Saya melakukan ini demi Allah (Tuhan). Ini pilihan saya. Saya sudah mengenakannya selama 1,5 tahun sekarang. Perdana Menteri harus berhati-hati atas apa yang ia ucapkan. Itu sangat memecah belah. Ini benar-benar memicu ketakutan. Ia merusak peluang untuk menyatukan komunitas Muslim dengan komunitas lainnya. Kenapa kami dihukum karena memakai ini? Kami warga negara Australia yang produktif. Bagi perempuan manapun yang diserang, ini memuakkan. Dengan atau tanpa penutup. Muslim atau non-Muslim.”

Maryam Ali, 56 tahun, Nenek 8 Cucu

Maryam Ali.

“Tiap orang punya pilihan. Apa yang menjadi pilihan pakaian orang lain seharusnya tak menjadi masalah. Saya telah mengalami diskriminasi karena penutup kepala saya. Budaya Australia itu menerima perbedaan. Mari hormati itu.”

Hayfa bakour, 17 Tahun, Pelajar

Hayfa Bakour.

“Penargetan terhadap perempuan Muslim itu sedikit menakutkan. Sebenarnya itu membuat saya semakin takut untuk berjalan-jalan. Memang belum ada kejadian yang menimpa saya. Sekarang ibu saya selalu memastikan bahwa saya tak pernah sendirian, selalu meninggalkan perpustakaan dengan seseorang, dengan salah satu teman perempuan saya. Ketika saya lebih muda, saya pikir saya beruntung tinggal di Australia. Tapi kini, mendengar semua cerita mengerikan dari perempuan yang mengalami perlakuan kejam, itu benar-benar bertentangan.”

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement