Senin 06 Feb 2017 17:25 WIB

2.000 Tokoh Gereja Katolik Terkait Pelecehan Seksual Anak

Poster di depan gedung komisi khusus Royal Commission into Institutional Responses to Child Sexual Abuse, 6 Februari 2017. Hampir 2.000 tokoh Gereja Katolik termasuk pastor, pemuka agama dan kalangan pegawai diidentifikasi sebagai terduga pelaku pelecehan
Foto: ABC
Poster di depan gedung komisi khusus Royal Commission into Institutional Responses to Child Sexual Abuse, 6 Februari 2017. Hampir 2.000 tokoh Gereja Katolik termasuk pastor, pemuka agama dan kalangan pegawai diidentifikasi sebagai terduga pelaku pelecehan

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Lebih dari 20 persen anggota sejumlah Gereja Katolik, termasuk Marist Brothers dan Christian Brothers diduga terlibat pelecehan seksual anak-anak. Demikian terungkap dalam persidangan komisi khusus Royal Commission into Institutional Responses to Child Sexual Abuse di Sydney, Australia, Senin (6/2).

Hampir 2.000 tokoh Gereja Katolik termasuk pastor, pemuka agama dan kalangan pegawai diidentifikasi sebagai terduga pelaku pelecehan dalam laporan komisi tersebut. Sidang ini memeriksa kebijakan dan prosedur otoritas gereja di Australia saat ini terkait perlindungan anak-anak dan standar keamanan anak-anak serta respons gereja terhadap laporan pelecehan.

Dalam sambutannya, Gail Furness SC mengatakan ada survei yang mengungkapkan 4.444 kejadian pelecehan antara Januari 1980 hingga Februari 2015 dilaporkan ke otoritas Gereja Katolik. Dia mengatakan 60 persen korban selamat yang menghadiri sesi pertemuan dengan komisi khusus, melaporkan pelecehan terjadi di lembaga-lembaga keagamaan.

Dari jumlah tersebut, hampir dua pertiganya melaporkan pelecehan terjadi di lembaga-lembaga Katolik. Laporan komisi khusus mengungkapkan sebanyak 1.880 terduga pelaku pelecehan berasal dari Gereja Katolik, 572 di antaranya pastor.

Furness menggambarkan pengakuan para korban itu sama-sama menyedihkan. "Anak-anak diabaikan atau lebih buruk lagi diberi hukuman. Tuduhan tidak ditindaklajuti. Pastor dan pemuka agama dipindahkan. Tempat tugas baru atau jemaatnya tidak tahu-menahu masa lalu mereka ini," katanya.

"Dokumen-dokumen tidak disimpan atau dihancurkan. Kerahasiaan berlaku, begitu pula upaya menutup-nutupi," tambahnya.

Usia rata-rata para korban saat mereka diduga dilecehkan adalah 10 tahun untuk anak perempuan dan 11 untuk anak laki-laki. Lembaga keagamaan menjadi sorotan dengan data yang menunjukkan antara 1950 dan 2010, lebih dari 20 persen lembaga Marist Brothers, Salesians of the Don Bosco, dan Christian Brothers dilaporkan terjadi pelecehan seksual anak.

Untuk St John of God Brothers, jumlahnya bahkan mencapai 40,4 persen. Data ini dirilis untuk pertama kalinya.

Membuat Nama Tuhan Jelek

Di antara yang menjadi korban adalah dua anak perempuan dari Anthony dan Chrissie Foster. Satu di antaranya telah meninggal dunia. Di luar persidangan, Chrissie menuturkan kisah perlakuan Gereja Katolik terhadap mereka.

"Para pastor Katolik telah membuat nama Tuhan jadi jelek. Mereka ini aib. Mereka tak menyesali perbuatannya," kata Chrissie.

"Sudah begitu lama hal ini menjadi cara mereka menyembunyikan pelaku. Memindahkan tempat tugas mereka, tanpa mempedulikan anak-anak, anak-anak lainnya menjadi korban, menderita nasib mengerikan ini," tambahnya.

"Mereka tidak menunjukkan belas kasihan, tidak ada penyesalan. Tidak ada sama sekali," ucapnya.

'Tragis dan tak Dapat Dibela'

Salah seorang tokoh paling senior Gereja Katolik Francis Sullivan dalam persidangan mengakui terjadinya pelecehan itu. Francis Sullivan melukiskan jumlahnya mengejutkan. "Kejadian itu tragis dan tidak dapat dibela," ujarnya.

"Setiap yang tertera dalam data ini, umumnya mewakili anak-anak yang menderita di tangan seseorang yang seharusnya merawat, dan melindungi mereka," ujar Sullivan.

Catholic Church Truth Justice and Healing Council chief Francis Sullivan
Francis Sullivan dari Gereja Katolik menyatakan kecewa atas ditolaknya skema nasional bantuan bagi para korban.

AAP Image: Paul Miller

Keuskupan Sydney, Perth, Brisbane, Adelaide, Melbourne dan Canberra-Goulburn bertemu di Sydney untuk memberi bukti-bukti sebagai bagian dari persidangan terbuka selama tiga pekan. Diperkirakan pertanyaan akan berfokus pada seberapa jauh pelecehan seksual anak-anak terjadi dalam hampir tujuh dekade dan apa yang dilakukan pemimpin gereja untuk melindungi anak-anak yang menjadi korban.

Ini merupakan persidangan terbuka yang ke-50 dari penyelidikan komisi khusus yang dijadwalkan berlangsung selama empat tahun. Ini sekaligus menjadi persidangan ke-16 khusus bagi Gereja Katolik.

Komisi khusus melakukan penyelidikan bagaimana lembaga-lembaga di seluruh Australia termasuk sekolah, gereja, klub olahraga, dan lembaga pemerintah menanggapi laporan pelecehan seksual di lembaganya masing-masing.

Diterbitkan Pukul 14:30 AEST 6 Februari 2017 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris.

sumber : http://www.australiaplus.com/indonesian/berita/hampir-2000-tokoh-gereja-katolik-diidentifikasi-dalam-kasus-pel/8244918
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement