Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Waspada Obesitas di Negara Berkembang

Jumat 03 Jan 2014 19:41 WIB

Red:

abc news

abc news

REPUBLIKA.CO.ID, INGGRIS -- Hasil riset yang dilakukan sebuah institut di Inggris mengingatkan peningkatan kasus obesitas yang mengkhawatirkan di negara berkembang. Skala laju peningkatan kasus obesitas lebih cepat dibandingkan negara-negara maju.

Jumlah kasus kelebihan berat badan dan penderita obesitas dewasa di negara berkembang meningkat empat kali lipat menjadi sekitar 1 miliar sejak 1980. Institut Pembangunan  Luar Negeri Inggris mencatat hal itu dalam laporan berjudul Masa Depan Pola Makan atau ‘Future Diets’. Laporan ini juga mencatat di negara-negara berpendapatan tinggi, jumlah obesitas dan kelebihan berat badan juga naik hingga 1,7 kali dibandingkan periode yang sama.

Lebih dari 34 persen orang dewasa yang dikategorikan kelebihan berat badan atau obesitas di tahun 2008. Jumlah ini naik 23 persen dari catatan tahun 1980 – dimana mayoritasnya berasal dari negara-negara berkembang, terutama negara-negara yang pendapatan warganya meningkat seperti Mesir dan Meksiko.

Orang dewasa dikategorikan obesitas jika indeks massa tubuhnya lebih besar dari 30.Laporan ini menunjuk perubahan pola makan dan ditinggalkannya konsumsi cereal dan gandum ke makanan  yang diproduksi dengan menggunakan lebih banyak gula, lemak, minyak dan protein hewani sebagai penyebab kenaikan kasus obesitas dan  kelebihan berat badan di negara berkembang. Sementara, masalah konsumsi makan yang berlebihan  serta gaya hidup yang kurang gerak menjadi penyebab obesitas dan kelebihan berat badan di  negara-negara maju dan pendapatan menengah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA