Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Mengapa Selalu Ada Orang Mengaku Nabi di Indonesia?

Kamis 14 Mar 2019 00:01 WIB

Red: Ani Nursalikah

.

.

Kemunculan orang mengaku nabi seringkali saat situasi politik dan ekonomi tak menentu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia adalah sebuah negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia. Tapi di saat yang sama, selalu ada yang mengaku nabi dengan jumlah pengikut mencapai ribuan orang.

Nabi-nabi dari Indonesia

  • Banyak orang yang mengaku telah menerima wahyu langsung dari Tuhan dan malaikat
  • Jejaring sosial membuat keberadaan agama baru semakin terlihat
  • Ada di antara mereka yang telah diseret ke pengadilan, bahkan dihukum penjara

Beberapa dari mereka bahkan pernah terjerat hukum pasal penistaan agama dan penipuan karena dianggap menyebarkan ajaran sesat. Profesor Al Makin dari UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta mengatakan kepada ABC Indonesia kemunculan orang-orang yang mengaku nabi sering terjadi saat situasi politik dan ekonomi di Indonesia tidak menentu.

"Keberadaan mereka disebabkan ketidakpastian dari suhu perpolitikan yang tidak menentu," ujar Profesor Al Makin merujuk pada kondisi saat berakhirnya rezim Presiden Suharto pada 1998, di mana ada ledakan nabi-nabi di Indonesia.

Menurutnya, kemunculan 'nabi-nabi' sering kali merupakan upaya mencari jawaban atas ketidakpuasan sosial dengan pendekatan Islam dan Kristen yang sudah dikenal sebelumnya. Menurut Profesor Al Makin, dilihat dari sejarah, sudah ada sekitar 600 orang di Indonesia yang mengaku mendapat wahyu sejak zaman penjajahan Belanda.

Meski Indonesia memiliki tradisi keberagaman budaya dan agama, suhu perpolitikan dan gerakan konservatif telah menyeret orang-orang yang mengaku nabi ke urusan hukum. Menurut Profesor Al Makin, keberadaan nabi-nabi ini bukanlah sebuah hal baru, karena sudah ada sejak lama dan menunjukkan Indonesia memiliki kekayaan spritual.

Meminta izin untuk pendaratan UFO

photo

Lia Aminudin (tengah) mendapat hukuman penjara hingga dua tahun di 2006. (Reuters/Crack Palinggi)

Salah satu fenomena yang menarik perhatian adalah sosok Lia Aminuddin yang lebih dikenal sebagai Lia Eden. Mantan perangkai bunga asal Jakarta ini percaya ia telah bertemu sosok Jibril dan mengangkatnya sebagai reinkarnasi Bunda Maria dalam ajaran Kristen atau Maryam dalam Alquran.  Ia mengaku memiliki misi menyelamatkan orang di Hari Kiamat.

Perempuan yang kini berusia 70 tahun itu , 20 tahun lalu juga mendirikan sebuah kerajaan dengan pengikut yang sering terlihat memakai pakaian serba putih. Pakaian putih menurut mereka untuk menjaga kesucian dan kemurnian.

Lia Eden pernah mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo untuk memberikan izin pendaratan UFO di Monas, Jakarta. "Kami berharap Presiden Jokowi bersedia memberikan izin pendaratan UFO kami," kata Lia dalam sebuah surat di Mei 2015.

Ia pernah masuk penjara di 2006 dan 2009 dengan vonis terbukti melakukan tindak pidana yang melukai perasaan umat beragama. Profesor Al Makin menilai, mengingat Indonesia secara sejarah dibangun di atas keberagaman, mengkriminalisasi seseorang karena kepercayaan adalah pendekatan yang salah.

"Fenomena nabi-nabi palsu ini harusnya dilihat sebagai sebuah tes seberapa jauh negara kita menghormati dan mentoleransi agama dan kepercayaan lainnya. Sayangnya kita tidaklah setoleran itu, banyak di antara mereka yang dibawa ke pengadilan, dipenjara, dan bahkan dituduh gila," ujar penulis buku Nabi-Nabi Nusantara itu.

Memiliki ribuan pengikut

Akhir 2018, sosok Sensen Komara dari Jawa Barat ramai diperbincangkan setelah mengaku mendapat wahyu dari Tuhan lewat mimpinya. Ia diperkirakan punya 4.000 pengikut.

Sebagai bagian dari ajarannya, ia mengubah syahadat dengan mengganti nama Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah dengan namanya sendiri. Ia dijerat pasal penistaan agama setelah ajarannya dianggap menyesatkan oleh Majelis Ulama Indonesia, namun kemudian pengadilan memutuskan untuk tidak menjatuhkan hukuman agama dan mengirimnya ke rumah sakit jiwa untuk mengikuti program rehabilitasi kejiwaan.

Namun karena kurangnya dana untuk program rehabilitasi tersebut, ia dilaporkan sejumlah media dikembalikan ke kampungnya dan melanjutkan ajarannya. Ada pula nama Ahmad Musadeq yang mengaku sebagai nabi baru sekaligus pendiri Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Gerakan ini kemudian dianggap sebagai aliran baru Islam dengan jumlah pengikut lebih dari 55 ribu orang dan menjadikannya sebagai salah satu nabi paling populer di Indonesia. Gafatar masuk dalam organisasi terlarang dan anggotanya menjadi korban intoleransi, diskriminasi, dan kejahatan terhadap kelompok agama minoritas yang memburuk di Indonesia.

Human Rights Watch mengatakan ribuan orang dilaporkan harus mengungsi setelah rumah mereka dibakar sekelompok orang di Kalimantan Barat pada 2016. Di 2017, Ahmad dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun.

photo

Perumahan milik kelompok Gafatar di Kalimantan Barat dibakar oleh warga setempat di tahun 2016. (Foto: Reuters/Antara News Agency)

Ikuti berita-berita lainnya dari ABC Indonesia.

sumber : http://www.abc.net.au/indonesian/2019-03-13/fenomena-nabi-nabi-palsu-di-indonesia/10896648
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA