Jumat, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Jumat, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Polisi Rilis Lima Nama Korban Tewas Serangan Christchurch

Kamis 21 Mar 2019 06:13 WIB

Red: Ani Nursalikah

 Pemakaman korban teror penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, Rabu (20/3).

Pemakaman korban teror penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, Rabu (20/3).

Foto: AP/Mark Baker
Korban termuda dari penembakan Christchurch berusia tiga tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, CHRISTCHURCH -- Kepolisian Selandia Baru secara resmi merilis nama lima korban yang ditembak mati di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru sebagai bagian dari dugaan serangan teroris berkulit putih.

Poin inti:

Baca Juga

  • Korban termuda dari serangan itu baru berusia tiga tahun
  • Haji Daoud Nabi (71 tahun) adalah korban tertua dan yang pertama kali diidentifikasi
  • Beberapa dari mereka yang terbunuh bergegas menyelamatkan orang lain selama penembakan

Serangan yang terjadi pada Jumat (15/3), yang diyakini dilakukan oleh pria Australia berusia 28 tahun, Brenton Tarrant, adalah pembunuhan massal di masa damai terburuk di Selandia Baru. Penembakan itu menewaskan 50 orang.

Rilis ini menandai pengungkapan resmi pertama nama-nama korban oleh kepolisian Selandia Baru, yang telah bekerja mengidentifikasi mayat-mayat itu sebagai bagian dari penyelidikan mereka. Keluarga dari para korban sebelumnya telah mendapat pemberitahuan tidak resmi tentang jasad mereka pasca serangan terjadi.

Namun, nama-nama yang secara resmi dirilis oleh polisi hari ini bukan satu-satunya nama yang telah muncul secara publik sejauh ini. Dua nama lain terungkap secara tidak resmi hari ini, yakni Khalid Mustafa (44) dan putranya Hamza (15). Keduanya dimakamkan Rabu (20/3).

Selanjutnya 50 orang juga dilaporkan terluka dalam serangan itu, 12 di antaranya masih dalam kondisi kritis. Inilah yang kita ketahui sejauh ini tentang lima korban pertama yang disebutkan oleh polisi.

Mucaad Ibrahim (tiga tahun)

photo

Mucad Ibrahim berusia 3 tahun berada di Masjid Al Noor bersama saudara laki-laki dan ayah mereka ketika pria bersenjata masuk dan melepaskan tembakan. (AP/Abdi Ibrahim)

Ia ditembak mati di Masjid Al Noor. Bocah laki-laki ini menghadiri shalat Jumat bersama ayah dan kakaknya, Abdi.

Ketika serangan itu dimulai, Abdi lari menyelamatkan diri, sementara ayahnya berpura-pura mati. Tapi Mucaad hilang dalam kekacauan.

Media The New Zealand Herald melaporkan keluarganya berusaha keras mencari sang balita ini di rumah sakit Christchurch. Mereka kemudian mengunggah foto Mucaad sedang tersenyum bersama saudaranya Abdi dengan tulisan: "Sesungguhnya kami milik Tuhan dan kepada-Nya kami akan kembali. Kami akan selalu merindukanmu saudaraku yang terkasih."

Junaid Ismail (36)

photo

Junaid Ismail

Junaid Ismail meninggal di masjid Al Noor, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh polisi. Seorang teman yang mengunggah kabar tentang kematian Ismail di Facebook mengatakan dia telah menikah dan memiliki tiga anak kecil. Keluarganya memiliki usaha sebuah toko di sudut jalan di pinggiran Christchurch, Hornby.

Saudara kembarnya Zahid Ismail mengatakan kepada The New Zealand Herald pada Selasa (19/3), keluarganya telah memohon kepada Pemerintah untuk merilis jasad Junaid. Keluarga dari korban yang terbunuh dalam serangan itu menjadi frustrasi dengan penyerahan jasad para korban tewas yang lambat.

"Saya ingin Junaid dibawa kembali ke keluarga saya karena hanya itu yang dapat saya pengaruhi sekarang," kata Zahid Ismail kepada surat kabar itu.

Polisi Selandia Baru mengatakan mereka memahami kekhawatiran keluarga, tetapi adalah prioritas mereka untuk memastikan tidak ada kesalahan yang dilakukan.

Kamel Mohd Kamal Kamel Darwish (38)

Darwish, seorang warga negara Yordania, juga tewas di masjid Al Noor. Dia menikah dan memiliki tiga anak berusia antara dua dan tujuh tahun yang masih tinggal di Yordania, menurut Radio Selandia Baru.

Dia dilaporkan bermigrasi ke Selandia Baru sekitar enam bulan lalu. Saudaranya, Zuhair Darwish, mengatakan kepada penyiar Darwish telah mengajukan visa sehingga ketiga anaknya dapat bergabung dengannya.

"Sangat sulit untuk tinggal di Yordania dan aku bilang padanya, ke sini, itu tempat terbaik untuk membesarkan anakmu. Semua orang tidak bisa mempercayainya ... aku tidak bisa mempercayainya," katanya.

Haji Mohemmed Daoud Nabi (71)

photo

Haji Daoud Nabi (71 tahun) adalah korban meninggal pertama yang berhasil diidentifikasi dalam insiden penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru

Haji Mohemmed Daoud Nabi terbunuh di masjid Al Noor. Dia diidentifikasi dalam pidato dari Perdana Menteri Jacinda Ardern sebagai orang yang membuka pintu masjid untuk penembak.

"[Bapak Nabi] mengucapkan kata-kata 'Halo saudara, selamat datang'. Kata-kata terakhirnya," kata Ardern.

"Tentu saja, dia tidak tahu kebencian yang ada di balik pintu, tetapi sambutannya memberi tahu kita begitu banyak - dia adalah anggota dari keyakinan yang menyambut semua anggotanya, yang menunjukkan keterbukaan, dan perhatian."

Putranya, Yama Nabi, mengatakan ayahnya datang ke Selandia Baru dari Afghanistan pada tahun 1977. Putra lainnya, Omar Nabi, berkata dia ingin membawa ayahnya kembali Afghanistan untuk dimakamkan.

"Ayah saya akan dimakamkan. Saya ingin membawanya kembali ke Afghanistan, ini adalah tanah kelahirannya," kata Nabi.

Dia mengatakan dia tidak akan pernah menyangka hal seperti ini bisa terjadi di Christchurch. "Tidak sama sekali, ini orang Selandia Baru, sangat multikultural. Tidak banyak kata yang bisa saya katakan tentang apa yang terjadi di sini karena begitu tenang dan santai," katanya.

Mohsen Mohammed Al Harbi (63)

photo

Mohsen Mohammed Al Harbi

Mohsen Mohammed Al Harbi terbunuh di masjid Al Noor dan diidentifikasi sebagai warga negara Selandia Baru dalam siaran pers polisi. Laporan media sebelumnya telah mengidentifikasi dia sebagai warga negara Saudi.

Al Harbi difoto sedang dilarikan ke rumah sakit setelah penembakan. Putranya, Feras Al Harbi, mengatakan kepada surat kabar Arab News Al Harbi meninggal delapan jam kemudian.

Feras Al Harbi mengatakan ayahnya telah tinggal di Selandia Baru selama 25 tahun. Ia adalah seorang imam paruh waktu yang sesekali memberikan khutbah Jumat di salah satu masjid yang menjadi target dalam serangan Christchurch.

Mantan majikannya di Showerwell Home Products, menulis di Facebook Al Harbi memiliki karakter asli warga Kiwi yang baik hati dan perhatian. Istri Harbi, Manal, menderita serangan jantung setelah mencoba menemukan suaminya selama serangan itu. Menurut laporan Arab News, ia berada di rumah sakit dalam kondisi kritis.

Jenazahnya telah dibawa ke Arab Saudi untuk dimakamkan di kota Madinah, tulis surat kabar itu.

Sumber : http://www.abc.net.au/indonesian/2019-03-21/polisi-selandia-baru-rilis-jasad-korban-serangan-christchurch/10922562
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA