Kamis, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Kamis, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

3.000 orang Ikut Pawai Cinta, Hormati Korban Christchurch

Sabtu 23 Mar 2019 10:50 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolanda

CHRISTCHURCH. Orang-orang berkumpul di Haley Park untuk melaksanakan March for Love sebagai penghormatan pada korban terorisme di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (23/3) waktu setempat.

CHRISTCHURCH. Orang-orang berkumpul di Haley Park untuk melaksanakan March for Love sebagai penghormatan pada korban terorisme di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (23/3) waktu setempat.

Foto: AP Photo/Mark Baker
Peserta pawai membawa tulisan-tulisan yang menguatkan.

REPUBLIKA.CO.ID, CHRISTCHURCH -- Sekitar 3.000 orang berjalan di sepanjang jalan Christchurch dalam March for Love pada Sabtu (23/3) pagi, menghormati 50 jamaah meninggal dunia di Selandia Baru, pekan lalu. Pawai ini dilaksanakan bersamaan dengan kembali dibukanya dua masjid yang menjadi lokasi penembakan.

Warga datang dari berbagai penjuru daerah sambil membawa tulisan-tulisan yang menguatkan, seperti 'Dia ingin memecah belah kita, dia hanya membuat kita lebih kuat', 'Kia Kaha', dan kalimat-kalimat positif lainnya.

Baca Juga

"Kami merasa seperti kebencian telah membawa banyak kegelapan pada saat-saat seperti ini dan cinta adalah obat terkuat untuk menerangi kota dari kegelapan itu," kata Manaia Butler (16) salah satu peserta pawai.

Dengan polisi bersenjata di lokasi, masjid Al Noor, tempat lebih dari 40 korban tewas oleh tersangka supremasi kulit putih, dibuka kembali pada Sabtu. Polisi mengatakan mereka juga membuka kembali masjid Linwood di dekatnya.

photo

CHRISTCHURCH. Orang-orang berkumpul di Haley Park untuk melaksanakan March for Love sebagai penghormatan pada korban terorisme di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (23/3) waktu setempat.

"Ini adalah tempat di mana kita berdoa, di mana kita bertemu, kita akan kembali, ya," Ashif Shaikh mengatakan kepada wartawan di luar masjid Al Noor. 

Dia mengatakan ada di lokasi pada hari penembakan. Dua dua teman serumahnya terbunuh.

Sebagian besar korban penembakan itu adalah migran atau pengungsi dari negara-negara seperti Pakistan, India, Malaysia, Indonesia, Turki, Somalia, Afghanistan, dan Bangladesh.

Pada Sabtu, barisan keamanan sangat ketat, dengan lusinan polisi bersenjata dan bus diparkir menyamping di jalan-jalan kota untuk menutup mereka saat pawai. Shila Nair, seorang migran dari India yang bekerja untuk kelompok advokasi migran bernama Shakti, melakukan perjalanan dari Auckland untuk ikut dalam pawai.

“Dukungan ini memberi kami harapan dan optimisme bahwa komunitas migran dan pengungsi di negara ini dapat memiliki medan bermain yang setara,” katanya.

photo

CHRISTCHURCH. Orang-orang berkumpul di Haley Park untuk melaksanakan March for Love sebagai penghormatan pada korban terorisme di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (23/3) waktu setempat.

Perdana Menteri Jacinda Ardern, yang dengan cepat mengecam penembakan itu sebagai terorisme dan telah berpartisipasi dalam banyak penghormatan dan pemakaman bagi para korban, telah mengumumkan larangan senapan semi-otomatis dan senapan serbu gaya militer, beberapa senjata yang digunakan oleh penembak. Ardern dan Selandia Baru telah dipuji secara luas karena curahan empati dan persatuan dan respons terhadap serangan-serangan itu. 

Jumlah Muslim hanya sekitar 1 persen dari 4,8 juta populasi Selandia Baru, sebuah sensus 2013 menunjukkan. Kebanyakan dari mereka dilahirkan di luar negeri.

Pada Jumat, azan disiarkan secara nasional di televisi dan radio dan sekitar 20 ribu orang menghadiri layanan doa di taman di seberang masjid Al Noor dalam sebuah pertunjukan solidaritas. Banyak wanita juga mengenakan jilbab untuk menunjukkan dukungan mereka.

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA