Rabu 31 Jan 2018 15:01 WIB

Mengatasi Permasalahan di Afrika dengan Drone

Drone digunakan mengantar darah hingga melawan kekeringan.

Rep: Marniati/ Red: Ani Nursalikah
Mohammed Alhatim Ahmed Ibrahim dan Hatem Mubarak Hassan, dari Massive Dynamics ada dua orang warga Sudan yang membangun petani robot terbang pertama di Sudan.
Foto: Lucy Provan/Aljazirah)
Mohammed Alhatim Ahmed Ibrahim dan Hatem Mubarak Hassan, dari Massive Dynamics ada dua orang warga Sudan yang membangun petani robot terbang pertama di Sudan.

REPUBLIKA.CO.ID, KIGALI -- Drone atau pesawat tak berawak (UAV) telah digunakan selama lebih dari tiga dekade, namun beberapa tahun terakhir drone semakin banyak dikembangkan dan digunakan untuk tujuan komersial.

Dilansir Aljazirah, Rabu (31/1), di negara-negara Afrika penggunaan drone sangat inovatif. Drone dapat digunakan di seluruh sektor industri. Hal ini berbeda dengan kebanyakan negara Barat yang justru berupaya menciptakan peraturan ketat dalam penggunaan drone.

Di negara-negara Afrika drone dimanfaatkan untuk mengatasi beberapa tantangan yang ada di benua tersebut. Di Rwanda, drone mengirimkan darah ke hampir setengah dari pusat transfusi darah negara tersebut.

Sebelumnya belum pernah ada dokter dan pasien di daerah terpencil Rwanda yang menerima darah dengan sangat cepat dan efisien. Perusahaan robotika Silicon Valley, Zipline, telah bermitra dengan pemerintah Rwanda untuk mengirim darah ke rumah sakit dan pusat transfusi darah di Rwanda menggunakan pesawat khusus.

Permintaan dilakukan secara online di situs pesanan Zipline, via telepon, pesan teks atau WhatsApp. Rumah sakit menerima pesan satu menit sebelum pesawat tak berawak mencapai tujuannya dan menjatuhkan paketnya, yang dilekatkan pada parasut.

 

photo
Pengiriman darah dengan menggunakan drone di Afrika. (Zipline/Aljazirah)

Juru bicara Zipline Justin Hamilton membahas logistik pesawat tak berawak dan gagasan di balik layanan pengiriman drone nasional pertama dan satu-satunya di dunia. "Misi perusahaan ini membawa obat menyelamatkan nyawa sampai yang paling sulit dijangkau bagian dunia," katanya.

Ia mengatakan dua pertiga dari pengiriman yang dilakukan adalah persediaan rutin dan sekitar sepertiga adalah untuk permintaan darurat. Menurutnya, nilai terbesar adalah kemampuan drone untuk mengakses semua lokasi lebih cepat daripada sebelumnya.

"Dalam situasi yang mengancam jiwa Anda seringkali hanya memiliki beberapa menit dan tidak berjam-jam untuk menghadapinya. Jadi yang bisa kami lakukan adalah mengurangi waktu pengiriman turun dari beberapa jam, dan dalam kasus terburuk lebih dari satu hari, menjadi sekitar 30 menit," katanya.

Ia mengatakan sejak diluncurkan pada Oktober 2016, Zipline telah melakukan lebih dari 2.000 pengiriman obat untuk menyelamatkan nyawa dan banyak di antaranya dalam situasi darurat. Tahun ini, perusahaan akan membuka pangkalan kedua di Rwanda untuk melayani bagian lain negara tersebut. Perusahaan juga akan memperluas jenis produk medis yang dikirim dengan memasukkan vaksinasi, antivenom dan obat-obatan penting lainnya.

Dua pemuda Sudan telah menghabiskan bertahun-tahun untuk membangun petani robot terbang pertama di Sudan.

Di Sudan drone digunakan untuk melawan kekeringan. Setelah beberapa dekade mengalami kekeringan dan penggundulan hutan, jutaan hektar gurun pasir Sudan telah berubah menjadi padang pasir. Pasir telah menelan rumah dan tanah pertanian, memaksa banyak penduduk desa untuk bergerak ke selatan.

photo
Drone bisa digunakan untuk mengawasi sejumlah kegiatan pertanian.

Para ahli mengatakan bagian-bagian dari negara Afrika yang dilanda konflik dapat menjadi tidak berpenghuni akibat perubahan iklim. Bertekad untuk menghentikan gurun pasir, dua pemuda Sudan telah menghabiskan bertahun-tahun untuk membangun petani robot terbang pertama di Sudan - sebuah pesawat tak berawak yang bisa menanam pohon, meningkatkan panen dan mengurangi kerusakan tanaman.

Mohammed Alhatim Ahmed Ibrahim dan Hatem Mubarak Hassan, dari Massive Dynamics ada dua orang warga Sudan yang merancang teknologi tersebut. Mohammed mengatakan 70 persen lahan pertanian Sudan berada di bawah ancaman menjadi gurun sehingga perlu dilakukan hal baru berbasis teknologi untuk mengatasi hal tersebut.

Ia mengatakan fungsi utama drone adalah menanam bibit pohon akasia. Periset mengatakan ini adalah cara terbaik untuk melawan penggurunan, karena akar pohon akasia bisa menghentikan pergerakan pasir.

Hal kedua yang dilakukan drone adalah memantau tanaman. Dengan melakukan penilaian itu, semua peneliti dan LSM akan dapat mengakses informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan di lapangan.

"Kta tidak bisa melakukannya sendiri, kita harus berdiri bersama: pemerintah, masyarakat dan LSM - semua orang - kita harus saling mendukung. Ini darurat. Masyarakat butuh bantuan dan mereka membutuhkannya sekarang juga! Bukan besok, bukan lusa," katanya.

Hatem menambahkan Sudan belum mampu membeli peralatan berteknologi dari luar atau mendapat dukungan teknis karena sanksi sehingga hal ini memaksanya untuk menciptakan teknologi tersebut. Sementara itu, di Nigeria , para arkeolog mulai menggunakan pesawat tak berawak untuk mendeteksi, memetakan dan melihat situs arkeologi di Ile-Ife, tempat lahir peradaban Yoruba.

Drone telah membantu penemuan tembok kota, permukiman yang ditinggalkan, gudang tembikar, lubang seremonial, dan serangkaian bahan arkeologi lainnya yang dibuat oleh orang-orang Yoruba selama abad ke-12. "Kami mulai menggunakan pesawat tak berawak pada 2015 untuk beberapa karya arkeologi kami di Ile-Ife untuk membantu menangkap gambar situs arkeologi," ujar Direktur Museum Sejarah Alam Nigeria Adisa Ogunfolakan.

Drone juga telah digunakan untuk mengidentifikasi lokasi di kota Ilara di Nigeria barat daya. Drone membantu menemukan luas parit di daerah itu, salah satu yang terbesar yang pernah ditemukan, mencapai sekitar 160 Km. Ia mengatakan ini adalah cara baru dalam melakukan arkeologi, yakni dari analog beralih ke digital.

Nigeria sempat memiliki tiga pesawat tak berawak yang dipinjamkan oleh AS. Saat ini Museum Arkeologi Nigeria sedang melakukan penggalangan dana untuk membeli drone sendiri.

"Kami adalah pengguna drone pertama untuk arkeologi di Nigeria dan museum kami adalah satu-satunya di Afrika Barat yang menggunakannya. Saya menganjurkan agar kita menggunakan pesawat tak berawak dalam proyek arkeologi di seluruh Afrika karena ini meningkatkan penelitian dan membantu kita untuk lebih tepat dalam identifikasi," katanya.

Adapun di Malawi, drone digunakan untuk mengirimkan tes HIV ke dan dari daerah terpencil di negara tersebut. Di bagian Afrika lainnya, pesawat tak berawak digunakan untuk memerangi perburuan liar, melacak kegiatan maritim dan tumpahan minyak secara ilegal, atau untuk menambah ekspedisi berburu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement