Selasa 19 Mar 2019 06:57 WIB

Angle of Attack Ethiopian Airlines dan Lion Air Sama

Penyelidikan jatuhnya Ethiopian Airlines penyelidikan masih berada pada tahap awal.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Ani Nursalikah
Foto yang diambil dari video menunjukkan petugas mencari korban diantara puing-puing jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines di daerah Hejere sekitar 50 km dari selatan Addis Ababa Kenya, Ahad (10/3).
Foto: AP
Foto yang diambil dari video menunjukkan petugas mencari korban diantara puing-puing jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines di daerah Hejere sekitar 50 km dari selatan Addis Ababa Kenya, Ahad (10/3).

REPUBLIKA.CO.ID,ADDIS ABABA -- Para penyidik dalam kecelakaan Ethiopian Airlines ET-302 Boeing 737 MAX 8 menemukan kesamaan mencolok pada sudut penerbangan yang vital dengan Lion Air JT-610. Berdasarkan analisis dari cockpit recorder, angle of attack di Ethiopian Airlines sangat mirip dengan Lion Air yang jatuh di perairan Karawang, Indonesia pada Oktober 2018.

Angle of attack adalah parameter mendasar dari penerbangan yang mengukur derajat antara aliran udara dan sayap pesawat. Jika terlalu tinggi, maka dapat membuat pesawat mengalami kegagalan aerodinamis.

Baca Juga

"Jika memang benar itu masalahnya, maka akan meningkatkan kemungkinan ada kejadian serupa antara Lion Air dan Ethiopian Airlines," ujar seorang pengamat dari Embry-Riddle Aeronutical University, Clint Balog, Selasa (18/3).

Adapun respons komputer terhadap sensor angle of attack telah menjadi inti dari penyelidikan dari jatuhnya Lion Air. Kementerian Transportasi Ethiopia, otoritas kecelakaan udara Prancis, dan Federal Aviation Administration (FAA) juga mengisyaratkan ada kesamaan penyebab jatuhnya Lion Air dan Ethiopian Airlines. Namun, pejabat keselamatan menekankan, penyelidikan masih berada pada tahap awal.

"Semuanya akan diselidiki," ujar juru bicara Kementerian Transportasi Ethiopia, Musie Yehyies.

Ethiopian Airlines dan Lion Air sama-sama menggunakan pesawat Boeing 737 MAX 8. Keduanya terjatuh beberapa menit setelah lepas landas.

Sebelum jatuh, pilot melaporkan terjadi masalah kontrol penerbangan dan meminta untuk memutar balik arah menuju ke bandara. Para ahli mempertanyakan mengenai regulasi secara menyeluruh yang memeriksa sistem pesawat dan pelatihan terhadap pilot untuk menerbangkan pesawat baru tersebut.

Setelah tragedi jatuhnya Lion Air, Boeing berencana meningkatkan sistem perangkat lunak pada 737 Max. Dalam hal ini regulator menyatakan, data sensor palsu dapat menyebabkan sistem yang dikenal sebagai Manuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) bereaksi secara berlebihan, dan membuat pesawat sulit dikendalikan.

The Seattle Times menyatakan, analisis keselamatan perusahaan terhadap sistem MCAS merupakan hal penting. Wall Street Journal melaporkan, jaksa penuntut dan Kementerian Transportasi Amerika Serikat (AS) sedang meninjau persetujuan FAA untuk seri 737 Max. Adapun juri telah mengeluarkan surat panggilan kepada orang-orang yang terlibat dalam pengembangan pesawat tersebut.

Direktur Eksekutif Boeing, Dennis Muilenburg mengatakan, perusahaan saat ini sedang menyelesaikan pembaruan terhadap perangkat lunak dan melakukan revisi untuk pelatihan pilot. Pembaruan tersebut meliputi cara mengendalikan kontrol penerbangan MCAS dalam menanggapi input sensor yang salah.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement