Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Uganda Siap Beri Suaka kepada Mantan Presiden Sudan

Rabu 17 Apr 2019 12:01 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

Omar Hassan Al Bashir

Omar Hassan Al Bashir

Foto: EPA/Sabri Elmhedwi
Uganda menilai Omar al-Bashir berkontribusi untuk perdamaian di kawasan.

REPUBLIKA.CO.ID, KAMPALA -- Pemerintah Uganda siap memberikan suaka kepada mantan presiden Sudan Omar al-Bashir. Dia telah digulingkan oleh militer di negaranya menyusul aksi demonstrasi yang berlangsung selama empat bulan terakhir.

Baca Juga

“Jika Bashir atau anggota keluarganya mengajukan permohonan suaka, permohonan mereka dapat dipertimbangkan oleh presiden,” ujar Menteri Luar Negeri Uganda Okello Oryem pada Selasa (16/4), dikutip laman Anadolu Agency.

Menurut dia, pertimbangan untuk memberikan suaka kepada Bashir dan keluarganya memang bukan tanpa alasan. Oryem berpendapat Bashir telah banyak berkontribusi untuk perdamaian di kawasan tersebut. Saat ini, Uganda masih memantau situasi di Sudan, termasuk proses transisi pemerintahan di sana.

Omar al-Bashir mengundurkan diri dari jabatannya pada Kamis pekan lalu. Langkah itu diambil menyusul gelombang demonstrasi nasional yang tak kunjung usai selama empat bulan terakhir. Ia terpaksa turun takhta setelah memerintah Sudan selama 30 tahun. Momen tersebut disambut sukacita rakyat Sudan yang memang menghendaki reformasi pemerintahan.

Pascapengunduran diri al-Bashir, dibentuklah dewan tranisisi yang dikepalai Jenderal Ibn Auf, yang juga menjabat sebagai menteri pertahanan. Dia mengatakan dewan militer akan memerintah selama dua tahun. Selain itu, Ibn Auf memberlakukan jam malam dan memutuskan menangguhkan konstitusi.

Rakyat Sudan tak dapat menerima hal itu karena dianggap tak sejalan dengan semangat reformasi yang mereka suarakan. Di sisi lain, mereka memandang Ibn Auf sebagai tokoh yang memiliki kedekatan dengan al-Bashir. Rakyat Sudan pun melanjutkan aksi demonstrasinya. Mereka bersumpah tidak akan berhenti melakukan aksi protes hingga semua tuntutannya terpenuhi.

Gelombang desakan akhirnya membuat Ibn Auf memutuskan mundur dari posisinya sebagai kepala dewan transisi militer. Jabatan tersebut hanya dia emban selama sehari, kemudian diserahkan kepada Letjen Abel Fattah Burhan. Saat ini Burhan sedang berupaya memenuhi semua tuntutan rakyat Sudan, termasuk membersihkan pemerintahan dari tokoh-tokoh yang menjadi bagian dari rezim al-Bashir.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA