Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Ledakan Besar Terjadi di Ibu Kota Libya

Ahad 21 Apr 2019 11:56 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nidia Zuraya

Kendaraan terbakar di distrik bagian selatan Abu Salim, Tripoli, Libya, awal pekan ini, lantaran konflik yang melibatkan dua pemerintahan di negara itu.

Kendaraan terbakar di distrik bagian selatan Abu Salim, Tripoli, Libya, awal pekan ini, lantaran konflik yang melibatkan dua pemerintahan di negara itu.

Foto: EPA-EFE/STRINGER
Pihak berwenang telah menutup satu-satunya bandara di ibu kota Libya yang berfungsi

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI -- Ledakan besar terdengar di ibu kota Libya, Tripoli usai satu pesawat terlihat mengudara selama beberapa menit, Sabtu (20/4) malam waktu setempat. Sejumlah serangan udara dan ledakan juga mengguncang Tripoli, menurut saksi mata.

Jurnalis Reuters, dan sejumlah warga mengatakan, mereka melihat pesawat tersebut berputar di udara selama lebih dari 10 menit. Berputarnya pesawat di atas ibu kota juga menimbulkan suara ledakan dengung seperti bunyi tembakkan.

Satu pesawat terdengar kembali pada tengah malamnya disertai ledakan yang mengguncang tanah. Tidak jelas apakah pesawat itu pesawa terbang atau pesawat tak berawak. Sebelumnya warga melaporkan serangan drone dalam beberapa hari terakhir, namun belum ada konfirmasi dari ledakan yang terdengar di pusat kota yang kali ini lebih keras dari pada hari sebelumnya.

Warga menghitung beberapa serangan rudal, yang salah satunya menimpa pasukan militer di distrik Saba'a yang terletak di selatan ibu kota. Tempat itu menjadi tempat pertempuran terberat antara pasukan musuh.

Pihak berwenang telah menutup satu-satunya bandara Tripoli yang berfungsi. Hal itu berarti memutus hubungan udara ke kota dengan perkiraan 2,5 juta penduduk. Meski demikian, Bandara di Misrata di kota yang berjarak 200 km ke timur, tetap beroperasi. Serangan udara, yang juga direkam oleh warga dalam video yang diposting online, terjadi setelah satu hari bentrokan di distrik selatan.

Pasukan Tentara Nasional Libya (LNA) yang loyal kepada komandan Khalifa Haftar memulai aksi ofensif dua pekan lalu, meski tidak dapat menembus pertahanan selatan pemerintah. Jika serangan drone dikonfirmasi, maka hal ini akan menunjukkan perang yang lebih canggih. LNA sejauh ini menggunakan jet buatan Soviet yang sudah tua dari angkatan udara Muammar Gaddafi, yang dijatuhkan pada 2011, kurang memiliki daya tembak dan helikopter presisi.

Menurut laporan Amerika Serikat (AS), dulu Uni Emirat Arab (UEA), dan Mesir tadinya telah mendukung Haftar dengan serangan udara untuk mengambil laih wilayah Libya timur. Kedua negara menerbangkan serangan udara di Tripoli pada 2014 selama konflik yang berbeda untuk membantu pasukan sekutu Haftar.

Baca Juga

Namun, sejak 2014, UEA dan Mesir telah menyediakan LNA dengan peralatan militer seperti pesawat terbang dan helikopter, yang membantu Haftar meraih kemenangan dalam konflik delapan tahun Libya. UEA bahkan membangun pangkalan udara di Al Khadim di Libya timur.

Kekerasan di Libya melonjak setelah Gedung Putih mengatakan, bahwa Presiden AS Donald Trump melakukan panggilan telepon dengan Haftar awal pekan ini. Pernyataan AS saat itu yakni bahwa AS mengakui peran penting Field Marshal Haftar dalam memerangi terorisme, dan perannya dalam mengamankan sumber daya minyak Libya yang telah mendorong pendukung komandan. Dari situ, langkah Trump membuat marah lawan-lawannya.

Kekuatan-kekuatan Barat dan Teluk telah terpecah karena desakan oleh pasukan Haftar untuk merebut Tripoli, dan hal itu juga merusak seruan oleh PBB untuk gencatan senjata. Kedua pihak mengklaim kemajuan di Tripoli selatan.

Seorang juru kamera TV Reuters yang mengunjungi pinggiran selatan Khalat Furgan mendengar tembakan keras tetapi tidak melihat adanya perubahan di garis depan. Warga mengatakan, pada Jumat (19/4) dua anak tewas dalam penembakan di Tripoli selatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pertempuran di Tripoli menewaskan 227 orang dan melukai 1.128 sebelum serangan udara.

Pada Kamis (18/4), AS dan Rusia mengatakan, kedua negara tidak dapat mendukung resolusi Dewan Keamanan AS yang menyerukan gencatan senjata di Libya saat ini. Rusia keberatan dengan resolusi rancangan Inggris yang menyalahkan Haftar untuk kekerasan terbaru ketika LNA-nya maju ke pinggiran Tripoli awal bulan ini.

AS sendiri tidak memberikan alasan keputusannya untuk tidak mendukung rancangan resolusi. AS juga akan menyerukan kepada negara-negara yang berpengaruh terhadap pihak-pihak yang bertikai untuk memastikan kepatuhan dan untuk akses bantuan kemanusiaan tanpa syarat di Libya.


sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA