Sunday, 19 Jumadil Akhir 1440 / 24 February 2019

Sunday, 19 Jumadil Akhir 1440 / 24 February 2019

Kurang Makan Akibat Krisis, Siswa Venezuela Enggan Sekolah

Selasa 18 Sep 2018 06:53 WIB

Rep: Marniati/ Red: Nur Aini

Ilustrasi krisis Venezuela.

Ilustrasi krisis Venezuela.

Foto: Reuters
Tahun ajaran baru di Venezuela sangat minim menghadirkan siswa akibat krisis ekonomi.

REPUBLIKA.CO.ID, KARAKAS -- Venezuela memulai kembali tahun ajaran baru sekolahnya pada Senin (17/9). Beberapa siswa terlihat tiba di ruang kelas. Krisis ekonomi yang melanda negara itu menyebabkan banyak keluarga tidak mampu membeli persediaan atau memberi anak-anak mereka makanan agar fokus belajar saat berada di sekolah.

Krisis ekonomi membuat jutaan orang harus berjuang untuk memperoleh makanan. Ratusan ribu orang Venezuela melarikan diri ke negara-negara tetangga untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Butuh waktu beberapa pekan agar kelas dapat berjalan normal kembali. Namun, para guru mengatakan ketidakhadiran siswa akan meningkat secara signifikan pada tahun ini.

Di daerah miskin, kota pedesaan Caucagua sekitar 75 kilometer (47 mil) dari Karakas, hanya tiga pelajar yang tiba di Miguel Acevedo Educational Unit, sebuah sekolah dasar negeri. Menurut kepala sekolah Nereida Veliz sekolah memiliki 65 siswa terdaftar.

"Kinerja sekolah cukup rendah karena anak-anak tidak datang ke kelas," kata Veliz. Di sekolah kecil itu listrik sering padam dan air hanya berfungsi tiga hari sepekan. Siswa umumnya datang ke sekolah untuk menerima makanan yang diberi negara.

"Mereka tidak makan di rumah, mereka makan di sini," katanya.

Departemen Pendidikan tidak menanggapi permintaan untuk komentar. Menteri Pendidikan Aristobulo Isturiz pada Jumat mengatakan kelas akan dimulai pekan ini untuk 7,6 juta siswa di 30 ribu sekolah di seluruh negeri. Angka itu mencakup 5.000 sekolah swasta.

Krisis ekonomi parah yang melanda Venezuela membuat warganya tidak mampu membeli pensil, buku, dan seragam. Transportasi umum yang tidak beroperasi telah menjadi halangan pada berbagai aktivitas. Hal itu mulai dari pengiriman produk hingga membawa anak-anak ke sekolah.

"Saya berusaha keras untuk membawa anak saya ke sekolah. Sebagian seragamnya berasal dari tahun lalu dan dari barang-barang saudara laki-lakinya. Saya menemukan sepatu yang dijual. Yang paling sulit adalah persediaan sekolah," kata Omaira Bracho (50), di kota pesisir Punto Fijo di negara bagian Falcon.

Presiden Nicolas Maduro mengatakan negara itu adalah korban "perang ekonomi" yang dipimpin oleh musuh politik yang didukung Amerika Serikat (AS). Di negara perbatasan Tachira, Javier Tarazona dari asosiasi guru negara mengatakan kelas belum dimulai karena beberapa masalah. Hal itu termasuk kurangnya tenaga pengajar, sanitasi yang tidak memadai, dan makanan yang tidak cukup.

Perwakilan serikat guru negara Falcon, Mari Garcia mengatakan di sekolah Benedicto Marmol di Punto Fijo, hanya tiga dari 365 siswa yang hadir pada Senin.

"Selalu ada banyak anak yang tidak hadir di awal kelas, tetapi tidak pernah begitu terlihat seperti ini," katanya.

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA