Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Pesawat Pengebom Rusia Mendarat di Venezuela, AS Marah

Rabu 12 Dec 2018 13:19 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Teguh Firmansyah

Pesawat tempur Angkatan Udara Rusia, Sukhoi Su-24.

Pesawat tempur Angkatan Udara Rusia, Sukhoi Su-24.

Foto: Guns.com
Pesawat mendarat setelah menempuh perjalanan lebih dari 10 kilometer.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Dua pesawat pengebom Rusia yang mampu membawa senjata nuklir telah mendarat di Venezuela, pada Senin (10/12). Kehadiran pesawat itu merupakan bukti dukungan Rusia bagi pemerintahan sosialis Venezuela. Kedatangan pesawat itu sontak memicu amarah Amerika Serikat (AS).

Pesawat pengebom supersonik TU-160, yang dikenal sebagai "White Swans" oleh pilot Rusia, mendarat di Bandara Maiquetia dekat ibu kota Caracas. Pemerintah Rusia dan Venezuela mengatakan pesawat itu tiba setelah menempuh jarak lebih dari 10 ribu km.

Pesawat yang mampu membawa rudal nuklir jarak pendek ini dapat terbang lebih dari 12 ribu km tanpa perlu mengisi ulang bahan bakar. Pesawat tersebut telah mendarat di Venezuela dua kali sebelumnya dalam satu dekade terakhir.

"Pemerintah Rusia telah mengirim pesawat pengebom ke belahan dunia ke Venezuela," kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo di Twitter.

"Rakyat Rusia dan Venezuela harus melihat ini apa adanya: dua pemerintahan korup yang menghambur-hamburkan dana publik, sementara rakyat mereka menderita," ungkap dia.

Baca juga, Inflasi Tahun Venezuela Mencapai 1,3 Juta Persen.

Kremlin pada Selasa (11/12) telah menolak pernyataan Pompeo dan menyebut kritik itu sangat tidak diplomatik dan benar-benar tidak pantas untuk disampaikan.

"Mengenai gagasan bahwa kami telah menghambur-hamburkan uang, kami tidak setuju. Tidak tepat negara yang anggaran pertahanannya dapat memberi makan seluruh rakyat Afrika, untuk membuat pernyataan seperti itu," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada wartawan.

Menteri Luar Negeri Venezuela, Jorge Arreaza, menyebut komentar Pompeo bukan hanya tidak sopan, tetapi juga sinis. Ia menyoroti jumlah pangkalan militer yang dimiliki AS di luar negeri.

"Anehnya, Pemerintah AS mempertanyakan hak kami untuk bekerja sama dalam pertahanan dan keamanan dengan negara lain, ketika @realDonaldTrump secara terbuka mengancam kami dengan invasi militer," tulis Arreaza di Twitter.

Kementerian Informasi Venezuela tidak menanggapi permintaan untuk memberikan rincian tentang kedatangan pesawat pengebom Rusia itu.

Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, mengatakan kepada mitranya di Venezuela bahwa penerbangan jarak jauh tersebut memberi pilot pengalaman yang sangat baik dan membantu menjaga kesiapan tempur pesawat.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pesawat pengebom itu ditemani oleh dua pesawat militer Rusia lainnya. Namun kementerian itu tidak mengatakan apakah pesawat itu membawa rudal, termasuk soal berapa lama mereka akan tinggal, dan apa misi mereka.

Kedatangan pesawat Rusia ini terjadi beberapa hari setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro melakukan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow. Pemerintahan sayap kiri Maduro adalah musuh AS yang paling signifikan di Amerika Latin.

Sebagai negara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC), perekonomian Venezuela justru semakin memburuk. Rusia kemudian menjadi negara kunci terakhir yang dapat menjadi pemberi pinjaman, berinvestasi dalam industri minyaknya, dan memberikan dukungan kepada militernya.


sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA