Ahad 13 Jan 2019 04:19 WIB

Trump Respons Investigasi FBI Terhadap Dirinya

FBI membuka penyelidikan atas dugaan Trump bekerja untuk Rusia.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Andri Saubani
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump
Foto: VOA
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merespons penyelidikan yang dilakukan Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) terhadap dirinya atas dugaan bekerja untuk Rusia. Melalui akun Twitter-nya @realDonaldTrump, Trump mempertanyakan sejumlah pihak yang menyudutkan dirinya atas investigasi tersebut.

Ia menyebut New York Times, FBI, mantan Direktur FBI James Comey, Hillary Clinton, Robert Mueller dan beberapa orang lainnya.

"Wow baru tahu di New York Times bahwa mantan pemimpin FBI yang korupsi, setelah hampir semuanya dipecat atau dipaksa meninggalkan lembaga karena beberapa alasan yang sangat buruk, justru membuka penyelidikan kepada saya tanpa alasan dan tanpa bukti, setelah saya memecat Lyin James Comey," ujar Trump dalam cicitannya, Sabtu (12/1) waktu setempat.

Trump melanjutkan, tak percaya jika pemecatan James Comey yang oleh Partai Republik dan Demokrat justru menimbulkan persoalan kepada dirinya. Ia juga mempertanyakan Hillary yang mengaku tidak tahu menahu, padahal ada investigasi Crooked Hillary.

Dalam pemberitaan yang dilansir NBC News, Sabtu (12/1) setempat, menyebut New York Times melaporkan FBI memutuskan untuk membuka penyelidikan terhadap Trump pada Jumat (11/1). Trump diselidiki setelah ia memecat Comey dari posisinya sebagai Direktur FBI pada 2017 dan mengaitkan pemberhentian tersebut dengan penyelidikan terkait Rusia.

Penyelidikan tersebut dikaitkan apakah pemecatan Comey terdapat unsur pelanggaran dan juga apakah mengaitkan Trump bekerja bagi Rusia secara sukarela atau tidak serta mengancam keamanan nasional. Penyelidikan terhadap Trump tersebut dipimpin oleh Robert Mueller yang sebelumnya menyelidiki dugaan intervensi Rusia di Pilpres AS 2016 lalu. New York Times memberitakan, bahwa FBI sudah mencurigai Trump berhubungan dengan Kremlin sejak masa kampanye Pilpres 2016.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement