Wednesday, 21 Zulqaidah 1440 / 24 July 2019

Wednesday, 21 Zulqaidah 1440 / 24 July 2019

Kematian Bayi di Venezuela Melonjak

Kamis 28 Feb 2019 13:04 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Nur Aini

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro saat peringatan Angostura Discour Bicentennial di Ciudad Bolivar, Venezuela (15/2).

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro saat peringatan Angostura Discour Bicentennial di Ciudad Bolivar, Venezuela (15/2).

Foto: EPA
Kematian bayi di Venezuela akibat krisis kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Kematian bayi di Venezuela telah melonjak sekitar 50 persen selama krisis politik yang berkepanjangan di negara itu. Kepala pembangunan politik dan perdamaian PBB, Rosemary DiCarlo, menggambarkan hancurnya sistem kesehatan Venezuela.

"Sebanyak 40 persen staf medis telah meninggalkan Venezuela, dan stok obat-obatan rumah sakit telah menyusut hingga 20 persen dari tingkat yang diperlukan," kata DiCarlo, dilansir dari laman Guardian, Kamis (28/2).

Baca Juga

DiCarlo mengatakan, krisis yang berkepanjangan di negara itu dalam beberapa pekan terakhir telah menyebabkan peningkatan ketegangan yang mengkhawatirkan. Empat orang tewas dan ratusan lainnya cedera dalam bentrokan akhir pekan lalu di perbatasan negara itu.

Anggota keamanan bentrok karena adanya upaya bantuan kemanusiaan yang semakin dipolitisasi ke Venezuela. Pemerintah yang dipimpin oleh Nicolas Maduro, didukung oleh Cina dan Rusia, ditentang oleh Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa serta Amerika Latin, yang menginginkan Maduro untuk mengundurkan diri.

DiCarlo memperingatkan kondisi suram yang mengancam warga negara. Dia menilai kondisi tersebut bisa dicegah. Sebanyak 3,4 juta orang telah melarikan diri dari kondisi yang semakin memburuk di Venezuela.

Mengomentari politisasi upaya bantuan baru-baru ini ke Venezuela, DiCarlo mengatakan, PBB mengoordinasikan upaya untuk memberikan bantuan sedekat mungkin dengan Venezuela. Ia menambahkan bahwa pemberian bantuan harus bebas dari tujuan politik dan disampaikan berdasarkan kebutuhan.

DiCarlo mengungkapkan, pasokan bantuan yang dikirim oleh Rusia dan Cina telah memasuki negara itu, berkoordinasi dengan pemerintah Venezuela. Sedangkan, pasokan dari AS dan negara-negara lain telah ditimbun di perbatasan Kolombia dan Brasil. Bantuan yang ditujukan untuk distribusi oleh oposisi Venezuela tetap dilarang dari memasuki negara oleh otoritas Venezuela.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA