Kamis, 18 Ramadhan 1440 / 23 Mei 2019

Kamis, 18 Ramadhan 1440 / 23 Mei 2019

Boeing Harus Kerja Keras Perbaiki 737 MAX

Selasa 02 Apr 2019 16:23 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Pekerja merakit Boeing 737 MAX 8 di fasilitas perakitan pesawat di Washington, Amerika Serikat.

Pekerja merakit Boeing 737 MAX 8 di fasilitas perakitan pesawat di Washington, Amerika Serikat.

Foto: AP Photo/Ted S. Warren
Pesawat Boeing 737 MAX ditangguhkan secara global pada bulan lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Juru bicara Administrasi Penerbangan Federal (FAA) menyebutkan, Boeing harus melakukan lebih banyak pekerjaan pada perbaikan yang diusulkan untuk pesawat 737 MAX. Pesawat tersebut diperkirakan tidak dapat mengudara dalam waktu dekat.

Baca Juga

Pekerjaan tambahan diperlukan untuk memastikan Boeing telah mengidentifikasi dan secara tepat menangani semua masalah terkait. "FAA tidak akan menyetujui perangkat lunak untuk instalasi sampai agensi puas dengan pengajuan," ujar pernyataan dari FAA, dilansir di Channel News Asia, Selasa (2/4).

Pesawat Boeing 737 MAX ditangguhkan secara global pada bulan lalu. Ini diberlakukan setelah kecelakaan kedua, dari dua kecelakaan mematikan terjadi dalam waktu kurang dari lima bulan.

Pengawasan telah berpusat pada sistem anti-stall yang dikembangkan khusus oleh Boeing. Fitur tersebut telah memberikan masalah bagi para pilot. Pemerintah Ethiopia menyatakan, sebuah laporan awal bencana kedua pada Boeing 737 MAX 8 yang menewaskan 157 orang kemungkinan akan dikeluarkan pekan ini.

Boeing pada pekan lalu mengumpulkan ratusan pilot, dan reporter di Renton, pabrik Washington untuk melakukan presentasi tentang usulan perubahan pada Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver (MCAS) atau anti-stall. Ini diyakini telah menjadi faktor kunci dalam kecelakaan Ethiopia Airlines dan Lion Air di Indonesia yang menewaskan 189 orang.

Di antara perubahan itu, MCAS tidak akan lagi berulang kali melakukan koreksi ketika pilot mencoba untuk mendapatkan kembali kendali. Kemudian secara otomatis akan terputus jika terjadi ketidaksepakatan antara dua angle of attack atau sensor AOA.

Boeing berkeinginan kuat memenangkan persetujuan yang dapat membuat pesawat kembali ke udara. Namun FAA juga menghadapi kritikan tajam pekan lalu pada sidang kongres mengenai pengawasannya terhadap Boeing.

Seorang juru bicara Boeing mengatakan pada Senin, perusahaan terus bekerja dengan regulator untuk mengatasi masalah. "Kami bekerja untuk menunjukkan bahwa kami telah mengidentifikasi, dan memenuhi semua persyaratan sertifikasi dengan tepat. Lalu akan mengajukan tinjauan FAA setelah selesai dalam beberapa pekan mendatang," kata juru bicara Boeing.

Boeing menambahkan keselamatan adalah prioritas pertama. Mereka akan mengambil pendekatan yang menyeluruh, metodis untuk pengembangan, dan pengujian pembaruan untuk memastikan mereka meluangkan waktu memperbaikinya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA