Jumat 05 Apr 2019 02:11 WIB

WHO: Angka Harapan Hidup Dunia Naik

WHO menyatakan hingga saat ini masih terdapat kesenjangan tinggi harapan hidup

Rep: Dedy Darmawan/ Red: Agung Sasongko
Penduduk Afghanistan.    (ilustrasi)
Foto: AP/Massoud Hossain
Penduduk Afghanistan. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan rata-rata angka harapan hidup secara global telah tumbuh 5,5 tahun. Peningkatan itu terjadi kurun waktu tahun 2000 hingga 2016.

Dilansir dari VOA, Jumat (5/4), rata-rata seorang anak yang lahir pada 2016 memiliki harapan hidup hingga 72 tahun. Hal ini meningkat dari rata-rata aak yang lahir pada tahun 2000, dimana angka harapan hidupnya hanya 66,5 tahun.

Baca Juga

Menurut WHO, selama 16 tahun pertama di abad 21 ini, telah terjadi penurunan yang signifikan terhadap kematian anak usia lima tahun. Terutama anak-anak yang hidup di wilayah Afrika dimana kerap kali terkena wabah penyakit malaria, campak dan penyakir menular lainnya.

Selain itu, harapan hidup juga meningkat berkat kemajuan yang dilakukan untuk melawan penyebaran virus HIV/Aids yang mematikan. Sebagai catatan, virus tersebut telah menghancurkan sebagian besar populasi Afrika pada era 1990-an.

Meski demikian, WHO menyatakan hingga saat ini masih terdapat kesenjangan yang tinggi untuk harapan hidup di negara maju dan berkembang. Pendapatan yang tidak layak serta minimnya akses kesehatan akan membuat harapan hidup seseorang jauh lebih singkat.

Berdasarkan statisik kesehatan dunia, orang-orang negara berkembang memiliki harapan hidup 18 tahun lebih singkat ketimbang masyarakat yang hidup di negara maju. Hal itu terjadi karena perbedaan dua kateogori negara itu dibedakan oleh tingkat pendapatan.

Sebagai contoh, di Lesotho, rata-rata harapan hidup dari yang sudah-sudah hanya sekitar 52 hingga 53 tahun. Di Republik Afrika Tengah, hanya sekitar 53 tahun. Sementara di Swiss dan Jepang, rata-rata angka harapan hidup sekitar 83 hingga 83 tahun. “Kebanyakan orang yang meninggal di negara-negara kaya adalah orang tua. Sedangkan, satu dari tiga kematian di negara miskin adalah anak-anak,” ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement