Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Bertemu CEO Twitter, Trump Mengeluh Kehilangan Follower

Rabu 24 Apr 2019 09:11 WIB

Red: Friska Yolanda

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

Foto: VOA
Ini kali pertama CEO Twitter bertemu Trump sejak menjabat sebagai presiden.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden AS Donald Trump pada Selasa (23/4) bertemu dengan Kepala Pejabat Pelaksana Twitter Inc Jack Dorsey dan menghabiskan waktu yang menyenangkan untuk menanyai mengenai mengapa presiden AS itu telah kehilangan sebagian follower di Twitter. Pertemuan tersebut, yang diadakan di Gedung Putih dilakukan beberapa jam setelah Trump kembali menyerang perusahaan media sosial itu mengenai klaimnya bahwa media tersebut bias terhadap kubu konservatif.

"Pertemuan luar biasa sore ini di @WhiteHouse dengan @Jack dari @Twitter. Banyak topik dibahas berkaitan dengan landasan mereka, dan dunia media sosial secara umum. Sangat ingin terus mempertahankan dialog terbuka," demikian cicitan Trump, seperti dikutip Rabu (24/4). Presiden AS tersebut menyiarkan gambar Dorsey dan orang lain bersama dia di Oval Office.

Baca Juga

Pada Selasa pagi, Trump menyatakan Twitter bias terhadap dia tanpa memberi bukti. Ia menulis di Twitter bahwa perusahaan itu tidak memperlakukannya dengan baik sebagai anggota Partai Republik.

"Sangat diskriminasi," katanya.

Di dalam satu pernyataan, Twitter mengatakan Dorsey mengadakan pertemuan yang konstruktif dengan presiden Amerika Serikat atas undangan presiden. Mereka membahas komitmen Twitter untuk melindungi kesehatan percakapan umum sebelum pemilihan presiden 2020.

Tidak seperti pejabat pelaksana perusahaan teknologi utama lain di AS, Dorsey sebelumnya tak pernah bertemu dengan Trump. Ia tidak diundang ke pertemuan Desember 2016 dengan presiden terpilih AS, Donald Trump, sedangkan wakil perusahaan utama teknologi lain diundang. 

Reuters pada 2016 melaporkan Trump marah dengan Twitter sebab perusahaan tersebut telah menolak kesepakatan iklan dengan kampanyenya. Pada Oktober, Trump menulis bahwa Twitter telah menghilangkan banyak orang dari akunnya. 

"Dan, yang lebih penting, mereka tampaknya telah melakukan sesuatu yang membuat lebih sulit untuk bergabung, telah menahan pertumbuhan sampai tahap yang jelas buat semua orang," katanya,

Trump kehilangan 204.000 akun atau 0,4 persen, dari 53,4 juta follower pada Juli. Hal ini terjadi ketika Twitter memulai pembersihannya terhadap akun yang mencurigakan.

Akun Twitter Trump merupakan salah satu akun dengan pengikut paling banyak di Twitter. Namun, presiden AS itu dan anggota Partai Republik di Kongres telah berulangkali mengkritik perusahaan tersebut dan pesaing media sosialnya atas apa yang telah mereka sebut bias terhadap kubu konservatif, tapi Twitter telah membantah tudingan itu.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA