Selasa, 22 Syawwal 1440 / 25 Juni 2019

Selasa, 22 Syawwal 1440 / 25 Juni 2019

Lima Anak Meninggal di Penampungan Migran AS-Meksiko

Selasa 21 Mei 2019 08:30 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Ani Nursalikah

Petugas AS menembakkan gas air mata ke arah migran di perbatasan Meksiko

Petugas AS menembakkan gas air mata ke arah migran di perbatasan Meksiko

Foto: AP Photo/Rodrigo Abd
Sebanyak empat anak meninggal dalam enam bulan di perbatasan AS-Meksiko.

REPUBLIKA.CO.ID, GUATEMALA -- Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan, seorang anak lelaki berusia 16 tahun dari Guatemala meninggal dunia di stasiun Patroli Perbatasan di Texas selatan. US Customs and Border Protection (CBP) mengatakan dalam sebuah pernyataan Patroli Perbatasan menangkap remaja itu di Lembah Rio Grande pada 13 Mei.

Baca Juga

CBP mengatakan remaja itu ditemukan tidak responsif selama pemeriksaan kesejahteraan. CBP tidak mengatakan alasan remaja itu ditahan selama seminggu. Tetapi mereka mengatakan, remaja itu akan ditempatkan di sebuah fasilitas untuk pemuda yang dioperasikan oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS.

Kematian itu terjadi kurang dari seminggu setelah seorang anak berusia dua tahun meninggal setelah dia dan ibunya ditahan oleh Patroli Perbatasan. Anak itu meninggal setelah beberapa minggu di rumah sakit.

Para pejabat mengatakan, anak itu mengalami demam tinggi dan kesulitan bernapas. Pihak berwenang langsung membawanya ke rumah sakit anak-anak, dan dia didiagnosis menderita pneumonia.

"Empat (anak meninggal dunia) dalam enam bulan adalah pola yang jelas dari pengabaian yang disengaja dan kejam untuk kehidupan anak-anak," ujar Ketua kelompok advokasi Families Belong Together, Jess Morales, dilansir Aljazirah, Selasa (21/5).

Hingga kini tercatat ada lima anak migran yang meninggal dunia di perbatasan sejak Desember. Kelima anak tersebut berasal dari Guatemala dan meninggal dunia setelah ditangkap oleh Patroli Perbatasan.

Lebih dari 114 ribu orang dari Guatemala ditangkap oleh Patroli Perbatasan, antara Oktober dan April. Banyak yang ditahan di Meksiko dan menghadapi tekanan dari pemerintah AS untuk membatasi migrasi.

Institut Imigrasi Nasional Meksiko mengatakan, seorang gadis berusia 10 tahun meninggal dunia dalam tahanan Rabu lalu, sehari setelah tiba dengan ibunya di sebuah pusat penahanan imigran di Mexico City. Pada awal Desember, Jakelin Caal Maquin yang berusia tujuh tahun meninggal karena infeksi bakteri.

Felipe Gomez Alonzo yang berusia delapan tahun meninggal dunia pada malam Natal karena infeksi flu. Dia ditahan bersama ayahnya selama seminggu sebelum jatuh sakit.

CBP mengakui mereka memindahkan Gomez Alonzo dan ayahnya karena tidak memiliki ruang di stasiun El Paso. Tempat terakhir anak dan ayah itu ditahan adalah sebuah pos pemeriksaan jalan raya.

Setelah kematian Gomez Alonzo, Departemen Keamanan Dalam Negeri mengumumkan akan memperluas pemeriksaan medis dan memastikan semua anak dalam tahanan Patroli Perbatasan akan menerima pemeriksaan langsung yang lebih menyeluruh pada waktu secepat mungkin. Juan de Leon Gutierrez yang berusia 16 tahun, meninggal dunia pada 30 April setelah para pejabat memperhatikan dia mengalami sakit di fasilitas penahanan kaum muda yang dioperasikan oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS.

Petugas medis di Corpus Christi, Texas, mengatakan Juan telah didiagnosis dengan kondisi langka yang dikenal sebagai tumor Pott, yang dapat disebabkan oleh infeksi sinus parah atau trauma kepala. Pemerintahan Presiden Donald Trump selama berbulan-bulan telah memperingatkan sistem imigrasi AS berada pada titik puncak.

Fasilitas penahanan imigrasi penuh sesak dan tidak dilengkapi dengan fasilitas untuk menampung keluarga dengan anak kecil. Hal ini karena jumlah keluarga yang melintasi lonjakan perbatasan AS-Meksiko mencapai rekor tertinggi.

Patroli Perbatasan telah melakukan 99 ribu penangkapan di perbatasan selatan pada April. Dalam beberapa pekan terakhir, Patroli Perbatasan di El Paso telah menahan keluarga selama berjam-jam di luar di tempat parkir dan di bawah jembatan internasional. Para orang tua migran mengeluh karena harus tidur di atas tanah di halaman luar, sementara kondisi di dalam tenda tidak jauh lebih baik.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA