Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Maduro: Amerika Berusaha Hancurkan Program Bantuan Pangan

Jumat 24 May 2019 08:26 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istri Cilia Flores melambaikan tangan kepada pendukungnya di luar istana kepresidenan Miraflores di Caracas, Venezuel, Senin (20/5).

Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istri Cilia Flores melambaikan tangan kepada pendukungnya di luar istana kepresidenan Miraflores di Caracas, Venezuel, Senin (20/5).

Foto: AP Photo/Ariana Cubillos
Maduro meluncurkan program bantuan pangan pada 2016.

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Presiden Venezuela Nicolas Maduro menuduh Amerika Serikat (AS) berusaha menghancurkan program bantuan pangan yang memberi makan sekitar enam juta keluarga di Venezuela.

Washington sedang mempersiapkan sanksi dan tuduhan kriminal terhadap pejabat Venezuela serta lainnya. Mereka diduga menggunakan program makanan untuk mencuci uang pemerintah Maduro. Langkah-langkah terhadap program tersebut dikenal di Venezuela dengan Local Supply and Production Committees (CLAP).

"AS sedang mempersiapkan sanksi untuk menghancurkan sistem CLAP. Lakukan apa yang ingin Anda lakukan, Venezuela akan melanjutkan CLAP," kata Maduro dalam siaran televisi, disertai dengan komando tinggi militer.

Program ini menjual kotak-kotak makanan dengan harga subsidi yang mencakup produk-produk seperti beras, pasta, minyak, dan susu bubuk. Beberapa produk diimpor dari negara-negara seperti Turki, Meksiko, Kolombia, dan Brasil.

Maduro meluncurkan program itu pada 2016 sebagai tanggapan terhadap kekurangan makanan kronis, dan kenaikan harga. Ini terjadi saat Venezuela berjuang di bawah hiperinflasi, dan kontraksi ekonomi yang parah. Sementara para kritikus menyebut program itu bentuk kontrol sosial, yang digunakan dalam menekan penerimanya untuk mendukung Partai Sosialis yang berkuasa.

Krisis politik Venezuela telah semakin dalam sejak pemimpin oposisi Juan Guaido meminta konstitusi untuk menjadi presiden sementara pada Januari. Ini dengan alasan bahwa pemilihan kembali  Maduro pada 2018 tidak sah.

AS dan juga sebagian besar negara-negara Eropa dan Amerika Latin telah mengakui Guaido sebagai pemimpin sah Venezuela. Akan tetapi Maduro tetap memegang kendali atas fungsi-fungsi negara dan dukungan dari petinggi militer. Selain itu Maduro juga mendapatkan dukungan dari sekutu seperti Rusia, Kuba dan Cina. Ia menyebut masalah ekonomi negara itu adalah hasil dari perang ekonomi, yang dipimpin oleh lawan politiknya dengan bantuan Washington.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA