Tuesday, 22 Syawwal 1440 / 25 June 2019

Tuesday, 22 Syawwal 1440 / 25 June 2019

Pohon Hadiah Macron untuk Trump Mati, Persahabatan Ikut Layu

Selasa 11 Jun 2019 17:40 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Donald Trump dan Emmanuel Macron bertemu di Gedung Putih, Selasa (24/4).

Donald Trump dan Emmanuel Macron bertemu di Gedung Putih, Selasa (24/4).

Foto: AP Photo/Susan Walsh
Hubungan Macron dan Trump dilaporkan merenggang.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Hadiah pohon dari Prancis ke Amerika Serikat (AS) yang diberikan Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam pertemuan pertamanya dengan Presiden AS Donald Trump dikabarkan mati. 

Tahun lalu, dua pemimpin dunia tersebut berdiri didampingi para istri mereka untuk menanam pohon oak dengan sekop berlapis emas di tangan di Halaman Selatan Gedung Putih. Penanaman pohon tersebut merupakan hadiah Prancis ke AS yang melambangkan kekuatan pada ikatan negara sekutu.

Baca Juga

Dilansir CNN, kini, selama satu tahun mengalami perawatan di Gedung Putih, pohon itu mati. Surat kabar Prancis Le Monde pertama kali melaporkan bahwa pohon itu telah mati saat di karantina.  

CNN belum secara independen mengkonfirmasi laporan tersebut. Gedung Putih maupun Departemen Pertanian AS juga tidak menanggapi permintaan komentar.

Kematian pohon itu kemungkian tidak lagi melambangkan ikatan antara Prancis dan AS, tetapi lebih merupakan metafora untuk hubungan yang renggang antara Trump dan Macron. Meskipun kedua pemimpin bertemu ramah dan tampak akrab selama acara Peringatan D-Day pekan lalu di Normandia, terlihat ada gesekan yang lebih baru daripada persahabatan. Keduanya disebut-sebut bersahabat atau "bromance," tapi persahabatan Trump-Macron sejak itu layu. 

Dalam satu tahun terakhir Macron secara terbuka mengkritik mentalitas "Amerika yang Pertama" Trump ketika menyangkut masalah mulai dari kesepakatan nuklir Iran hingga perubahan iklim. Dalam pidato September 2018 di Majelis Umum PBB, Macron mencerca metode Trump. Ia mengatakan, dialog dan multilateralisme adalah cara yang lebih efektif untuk menyelesaikan masalah. Macron tidak mendukung pendekatan isolasi untuk memperbaiki apa yang menyebabkan konflik dunia;  sama halnya, pohon itu rupanya juga bukan penggemar isolasi.

Pohon itu datang langsung dari Kayu Belleau di Prancis Utara, tempat di mana pada 1918 selama Perang Dunia I, ribuan marinir AS tewas dalam pertempuran tiga minggu. "Darah (orang Amerika) tumpah untuk membela Prancis," kata Macron April lalu setelah dia dan Trump berpartisipasi dalam penanaman seremonial.

Namun, menurut USDA, tak lama kemudian, anak pohon berumur lima hingga 10 tahun, sekitar empat kaki tingginya itu telah dipindah dan ditempatkan di bawah perawatan USDA's Animal and Plant Health Inspection Service di fasilitasnya di Beltsville, Maryland.

Salah satu pejabat mengatakan kepada CNN bahwa karantina adalah bagian dari aturan peraturan normal untuk pohon impor dan bisa bertahan hingga dua tahun. Layanan itu bekerja sama dengan para pejabat Prancis untuk memfasilitasi impor pohon itu. Kendari demikian, karantina diperlukan karena patogen seperti jamur phytophthora tidak terlihat atau serangga dikhawatirkan terkontaminasi di pohon. 

Duta besar Prancis untuk AS Gerard Araud, mengkonfirmasi kepada CNN, karantina pohon muda itu. Menurutnya, di akun resmi Twitternya pada April bahwa akarnya dilingkupi dalam lapisan plastik khusus agar tidak mencemari tanah Gedung Putih.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA