Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

AS Minta Inggris Ekstradisi Pendiri Wikileaks

Rabu 12 Jun 2019 03:40 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Friska Yolanda

Julian Assange

Julian Assange

Foto: EPA/Andy Rain
AS menuduh Assange melakukan konspirasi untuk bobol sistem jaringan komputer Pentagon

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah secara resmi meminta Inggris mengekstradisi pendiri situs Wikileaks Julian Assange. AS diketahui menuduh Assange melakukan konspirasi untuk membobol sistem jaringan komputer rahasia Pentagon.

Seorang pejabat AS mengatakan permintaan ekstradisi itu dikirim kepada otoritas Inggris pada Kamis pekan lalu. Belum diketahui apakah Inggris akan mengabulkan permintaan tersebut.

Baca Juga

Assange ditangkap kepolisian Inggris di Kedutaan Besar Ekuador di London pada April lalu. Dia ditahan setelah suaka politik yang diberikan Pemerintah Ekuador terhadap dirinya dicabut.

Selain menghadapi tuntutan peretasan di AS, Assange juga menghadapi kasus dugaan pemerkosaan di Swedia. Kasus itu dibuka kembali oleh kejaksaan Swedia pada Mei lalu.

Penyelidikan dugaan pemerkosaan oleh Assange dilanjutkan sebab ada permintaan dari pengacara korban. Kasus tersebut diketahui terjadi pada 2010 pascakonferensi Wikileaks di Stockholm. 

Pada 2017 penyelidikan awal terhadap kasus itu dihentikan karena Assange telah berada di Inggris dan memperoleh suaka politik dari Kedutaan Besar Ekuador di London. Wakil Kepala Jaksa Penuntut Swedia Eva-Marie Persson meyakini masih bisa mengusut kasus tersebut.  

"Masih ada kemungkinan penyebab untuk mencurigai bahwa Assange melakukan pemerkosaan. Sekarang dia telah meninggalkan kedutaan Ekuador, kondisi dalam kasus ini telah berubah dan syarat-syarat sudah ada sekali lagi untuk mengejar kompetisi ini," kata Persson.

Persson mengungkapkan otoritas Inggris akan memutuskan permintaan ekstradisi mana yang harus diikuti, AS atau Swedia. Assange dijadwalkan menjalani persidangan lanjutan di Inggris pada Rabu (12/6). 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA