Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Soal Serangan Tanker, Cina Minta Semua Pihak Menahan Diri

Jumat 14 Jun 2019 15:56 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Kerusakan yang dialami kapal tanker minyak Kokuka Courageous di Teluk Oman dekat pantai Iran, Kamis (13/6).

Kerusakan yang dialami kapal tanker minyak Kokuka Courageous di Teluk Oman dekat pantai Iran, Kamis (13/6).

Foto: U.S. Central Command via AP
Cina minta semua pihak tahan diri agar tak picu konflik di wilayah Timur Tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING — Kementerian Luar Negeri cina menyerukan semua pihak untuk menahan diri terkait dengan insiden serangan kapal tanker di Teluk Oman pada Jumat (14/6). Negeri Tirai Bambu menekankan agar hal ini tidak memicu konflik dan perang di wilayah Timur Tengah tersebut.

Pemerintah Cina berharap semua pihak yang terlibat dapat menyelesaikan masalah melalui dialog. Dalam serangan itu, amerika serikat (AS) telah menyalahkan iran sebagai dalang utama insiden.

Tuduhan itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS mike pompeo . Dalam sebuah pernyataan ia mengatakan dugaan tersebut didasarkan pada laporan intelijen, serta senjata yang digunakan. Meski demikian, ia tak memberikan bukti untuk mendukung klaim tersebut.

Insiden serangan dua kapal tanker minyak di Teluk Oman terjadi pada Kamis (13/6) kemarin. Dalam sebuah pernyataan, manajemen kapal Bernhard Schulte mengatakan, kapal tanker Kokuka Courageous mengalami kerusakan akibat kejadian ini.

Serangan itu disebut merusak lambung kapal yang sedang dalam perjalanan dari Arab Saudi ke Singapura. Kemudian, CPC Corporation Taiwan menyatakan kapal tanker Front Altair yang mengangkut 75 ribu ton naptha diduga terkena serangan torpedo sekitar pukul 04.00 waktu setempat.

Kapal yang dimiliki Frontline Norwegia tersebut membawa naptha yakni bahan baku petrokimia dari Ruwais di uni emirat arab (UEA). Frontline Norwegia juga mengkonfirmasi bahwa kapal mereka terbakar di Teluk Oman.

Sementara itu, dalam data pelacakan kapal Refinitiv Eikon menunjukkan Front Altair, sebuah kapal Aframax, berada di perairan antara Oman dan Iran membawa kargo naphtha untuk pengiriman di Taiwan bulan ini. Sumber itu mengatakan awak kapal dari kedua kapal yang diduga diserang tersebut kini telah dievakuasi dengan aman.

Iran secara tegas telah membantah tuduhan AS yang menyatakan negara itu berada di balik serangan dua kapal tanker di Teluk Oman. Negara Republik Islam itu juga menyatakan bahwa tuduhan Negeri Paman Sam tidak memiliki dasar yang jelas.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menggambarkan serangan tanker minyak di Teluk Oman merupakan serangan yang mencurigakan. Dia menyerukan adanya dialog regional.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA