Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

AS akan Mulai Kembali Perundingan Dagang dengan Cina

Rabu 26 Jun 2019 09:01 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Ani Nursalikah

Presiden Cina Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump di Beijing, Cina, Kamis (9/11).

Presiden Cina Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump di Beijing, Cina, Kamis (9/11).

Foto: AP Photo/Andrew Harnik
AS -Cina sepakat tidak mengenakan tarif baru dalam negosiasi selanjutnya.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) akan memulai kembali perundingan perdagangan dengan Cina, setelah Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping bertemu di Jepang. Seorang pejabat administrasi senior AS menyatakan, dalam perundingan selanjutnya Washington tidak akan menerima persyaratan apa pun mengenai tarif.

Baca Juga

Pejabat yang berbicara dengan syarat anonim tersebut mengatakan, kedua belah pihak sepakat tidak mengenakan tarif baru dalam negosiasi perdagangan selanjutnya. Presiden Trump dan Presiden Xi akan bertemu dalam pertemuan puncak kelompok G20 di Osaka, Jepang. Pertemuan ini merupakan yang pertama kalinya sejak pembicaraan perdagangan pada Mei lalu.

Wakil Perdana Menteri Cina Liu He, yang memimpin pembicaraan perdagangan untuk Beijing telah berbicara di telepon dengan rekan-rekannya, yakni Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin pada Senin (24/6) lalu. Ketiganya akan mengatur pertemuan para pemimpin negara mereka pada akhir pekan ini.

Cina menyatakan, kedua belah pihak harus melakukan kompromi dalam pembicaraan perdagangan. Selain itu, kesepakatan perdagangan harus memberikan keuntungan bagi kedua negara.

Sementara, para penasihat Trump mengatakan, pertemuan antara Trump dan Xi tidak akan menciptakan kesepakatan perdagangan. Namun, pertemuan tersebut diharapkan dapat membuka jalan untuk pembicaraan lebih lanjut. Pejabat senior administrasi Trump mengatakan, setelah negosiasi dilanjutkan kedua belah pihak membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk mencapai kesepakatan.

Washington telah mengenakan tarif dua persen untuk barang-barang Cina senilai 250 miliar dolar AS, mulai dari semi-konduktor hingga furnitur yang diimpor ke AS. Trump telah mengancam akan mengenakan tarif barang lebih dari 325 miliar dolar AS, mencakup hampir semua produk impor Cina ke AS, termasuk produk konsumen seperti ponsel, komputer dan pakaian.

Seseorang yang akrab dengan pembicaraan tersebut mengatakan, dimulainya kembali perundingan bisa menahan ancaman kenaikan tarif oleh Trump. Namun tidak ada pihak yang menunjukkan keinginan besar untuk mengubah posisi, meskipun ada keinginan untuk bertemu.

“Saya pikir jika mereka menggunakan tarif, pembicaraan perdagangan sudah mati," ujarnya.

Beijing menginginkan AS untuk mencabut tarif. Sementara Washington ingin Cina mengubah serangkaian praktik termasuk mengenai kekayaan intelektual dan persyaratan bahwa perusahaan AS berbagi teknologinya dengan perusahaan Cina untuk melakukan bisnis di sana.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA