Jumat, 15 Rajab 1440 / 22 Maret 2019

Jumat, 15 Rajab 1440 / 22 Maret 2019

Korea Gunakan Satu Bendera di Olimpiade Musim Dingin

Kamis 18 Jan 2018 07:59 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Ani Nursalikah

Suporter Korea Selatan pada Olimpiade Musim Dingin PyeongChang 2018 membawa bendera Korea Utara dan negara peserta lainnya.

Suporter Korea Selatan pada Olimpiade Musim Dingin PyeongChang 2018 membawa bendera Korea Utara dan negara peserta lainnya.

Foto: EPA-EFE/YONHAP SOUTH KOREA OUT

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Korea Utara dan Korea Selatan (Korsel) sepakat bersatu di bawah bendera persatuan Korea pada Olimpiade Musim Dingin bulan depan yang akan diselenggarakan di Korsel. Mereka juga sepakat akan bergabung di tim yang sama dalam olahraga hoki es wanita pada pembicaraan langka yang dilakukan di desa Panmunjom.

Pembicaraan tersebut merupakan pembicaraan tingkat tinggi pertama antarkedua negara dalam kurun waktu lebih dari dua tahun. Ini menandai cairnya hubungan yang dimulai saat tahun baru kemarin saat Korea Utara (Korut) menawarkan mengirimkan tim dalam pertandingan tersebut.

 

Dilansir di BBC, Kamis (18/1), Olimpiade Musim Dingin akan berlangsung pada 9 hingga 25 Februari di Pyeongchang, Korsel. Jika rencana yang sudah dibahas bisa terealisasi maka delegasi Korut yang beranggotakan ratusan orang termasuk 230 pemandu sorak, 140 musisi orkestra, dan 30 atlet taekwondo bisa menghadiri olimpiade tersebut.

 

Kedua negara juga sudah bersepakat membentuk tim gabungan untuk olahraga hoki es perempuan. Ini juga akan menjadi kali pertama para atlet dari dua negara berkompetisi di tim yang sama untuk sebuah Olimpiade.

 

Korut juga sepakat mengirimkan 150 delegasinya ke Paralimpiade yang akan dilaksanakan pada Maret. Kesepakatan tersebut harus disetujui oleh pertemuan Komite Olimpiade Internasional (IOC) di Lausanne, Swiss pada Sabtu nanti karena Korut telah melewatkan tenggat waktu pendaftaran atau gagal lolos.

 

Korsel selain itu juga perlu menemukan cara menjadi tuan rumah delegasi Korut tanpa membayar sanksi kepada Dewan Keamanan PBB yang melarang pembayaran tunai ke Pyongyang dan beberapa daftar hitam yang dimiliki pejabat senior Korut.

 

Pelatih hoki Korsel dan surat kabar konservatif menyatakan kekhawatirannya tentang prospek penyatuan tim hoki ini. Mereka mengkhawatirkan kerja sama tersebut dapat merusak peluang Korsel memenangkan medali.

 

Puluhan ribu orang menandatangani sebuah petisi online yang mendesak Presiden Moon Jae-In membatalkan rencana tersebut. Namun pemimpin liberal tersebut mengatakan kepada para atlet Olimpiade Korsel pada Rabu partisipasi Utara dalam Olimpiade bisa membantu memperbaiki hubungan dua negara.

 

Jepang memandang pembicaraan dua negara tersebut dengan penuh kecurigaan. Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono mengatakan dunia tidak boleh dibutakan oleh serangan ofensif Pyeongyang yang baru. "Ini bukan saatnya mengurangi tekanan yang ada atau memberi penghargaan pada Korut. Fakta Korut terlibat dalam dialog menunjukkan bukti sanksi tersebut sedang berlangsung," ujarnya.

 

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA