Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Thursday, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Megawati Dukung Cina Laksanakan Diplomasi Kebebasan Ekonomi

Senin 05 Nov 2018 12:05 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Presiden kelima Megawati Soekarno Putri

Presiden kelima Megawati Soekarno Putri

Foto: RepublikaTV/Fakhtar Khairon Lubis
Megawati mendapat gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Fujian di Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, FUZHOU -- Presiden RI Kelima Megawati Soekarnoputri mengatakan diplomasi ekonomi yang dilakukan Cina, selaku raksasa ekonomi dunia baru, sangat potensial berperan membangun perdamaian dunia.

Melalui diplomasi kebebasan ekonomi, kata Mega, Cina dapat menyingkirkan ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang disebabkan oleh sistem ekonomi liberal.

"Saya berharap dan mendukung Cina untuk melaksanakan diplomasi kebebasan ekonomi," ujar Megawati dalam orasi ilmiah seusai menerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) bidang diplomasi ekonomi dari Fujian Normal University, di Fuzhou, Cina, Senin (5/11).

Putri Proklamator RI Bung Karno itu menyampaikan, saat ini dunia menghadapi berbagai persoalan seperti kelaparan, pengangguran, terorisme, perdagangan manusia dan narkotika, pemanasan global, konflik antarnegara dan lain sebagainya.

Menurutnya, Cina dapat mengambil peran dalam diplomasi ekonomi, sebab kehadiran Tiongkok dibutuhkan dalam menghadapi rumitnya masalah dunia tersebut. "Dunia membutuhkan Cina sehingga kekuatan ekonomi Tiongkok menjadi kekuatan nyata dunia," kata dia.

Baca juga, Raih Gelar HC dari Universitas Cina, Ini Pesan Mega.

Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu meyakini bahwa diplomasi kebebasan ekonomi, jika dilaksanakan secara konsisten  apat menjadi jawaban bagi permasalahan dunia.

Megawati meyakini bahwa Pemerintah dan Rakyat Cina juga tidak setuju dengan praktik-praktik ekonomi yang tak berbelas kasih. Hal ini tercermin dari tekad Pemerintah RRT di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping.

Megawati mengutip peristiwa penutupan sidang pertama Kongres Rakyat Nasional ke-13 di Beijing pada 20 Maret 2018 dimana pada kesempatan itu Presiden Xi Jinping menegaskan bahwa Tiongkok tidak akan pernah membangun dan berkembang dengan mengorbankan kepentingan bangsa-bangsa lain.

Dengan kata lain, kata Megawati, ekonomi Cina yang meningkat bukanlah sebuah isyarat atas munculnya perang dagang.

Baginya, paradigma "perang" dalam ekonomi adalah sebuah cerminan dari liberalisme. Sementara Cina saat ini, diyakininya tak sedang memainkan "perang" dalam konteks itu.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA