Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Bangladesh Bersikukuh Pulangkan Rohingya ke Myanmar

Kamis 15 Nov 2018 14:39 WIB

Rep: Marniati/ Red: Teguh Firmansyah

Suasana kamp pengungsi Rohingya Balukhali, Bangladesh,

Suasana kamp pengungsi Rohingya Balukhali, Bangladesh,

Foto: Altaf Qadri/AP
Warga Rohingya tak boleh dipaksa untuk pulang.

REPUBLIKA.CO.ID, COX'S BAZAR -- Pemerintah Bangladesh mengatakan, pemulangan  Rohingya ke Myanmar akan dimulai sesuai jadwal yang ditetapkan. Pemulangan ini dijadwalkan pada Kamis (15/11).

Komisaris Pengungsi Abul Kalam mengatakan kepada the Associated Press, dia dan pejabat lainnya akan pergi ke Unchiprang, salah satu kamp pengungsian di dekat kota Cox's Bazar, untuk meminta lebih dari 700 ribu orang Rohingya agar kembali ke Myanmar secara sukarela.

Kalam menolak untuk mengatakan apa yang akan dilakukan otoritas Bangladesh jika para pengungsi menolak untuk pulang. Tetapi menurut kesepakatan yang diperantarai  Bangladesh dan Myanmar, Rohingya tidak dapat dipaksa untuk dipulangkan.

"Jika mereka setuju, kami akan membawa mereka ke kamp transit dan memberi mereka makanan selama tiga hari sebelum menyerahkan kepada pihak berwenang Myanmar," katanya.

Baca juga, Ramai-Ramai Menghukum Suu Kyi.

Eksodus besar-besaran  Rohingya dimulai Agustus lalu, setelah pasukan keamanan Myanmar melancarkan serangan brutal menyusul serangan oleh kelompok pemberontak di pos jaga. PBB dan komunitas internasional telah menuduh Myanmar melakukan genosida.

Meskipun ada jaminan dari Myanmar, namun aktivis hak asasi manusia mengatakan, bahwa kondisi saat ini masih belum aman bagi pengungsi Rohingya untuk kembali.

"Tidak ada yang dikatakan atau dilakukan oleh Pemerintah Myanmar menunjukkan bahwa Rohingya akan aman setelah kembali," kata direktur Human Rights Watch , Bill Frelick, dalam sebuah pernyataan.

Kelompok itu mengatakan 150 orang dari 30 keluarga telah dibawa ke kamp transit sebagai persiapan untuk kepulangan.

Pihak berwenang Bangladesh mengatakan, mereka telah bekerja dengan badan pengungsi PBB untuk mengumpulkan daftar orang yang bersedia kembali ke Myanmar.

Di kamp pengungsi Jamtoli, Setara (25 tahun) mengatakan, dia dan dua anaknya, usia 4 dan 7 tahun, berada dalam daftar yang akan dipulangkan. Namun orang tuanya tidak. Dia mengaku tidak pernah meminta untuk kembali ke Myanmar.

Pada Kamis pagi, Setara tetap mengantarkan anak-anaknya ke sekolah yang dikelola oleh pekerja bantuan.  "Mereka membunuh suami saya; sekarang saya tinggal di sini bersama orang tua saya. Saya tidak mau kembali," kata Setara.

Dia mengatakan, keluarga pengungsi lain yang tinggal di kamp Jamtoli dan namanya  muncul di daftar pemulangan pemerintah Bangladesh telah melarikan diri ke kamp lain.

Negosiasi untuk pemulangan telah berlangsung selama berbulan-bulan. Tetapi rencana untuk mulai mengirim pengungsi kembali ke Negara Rakhine Myanmar pada Januari lalu dibatalkan di tengah kekhawatiran LSM dan Rohingya. Mereka khawatir akan kembali menjadi korban kekerasan jika pulang ke Myanmar.

Para pemimpin asing, termasuk Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence, telah mengkritik pemimpin Aung San Suu Kyi di sela-sela pertemuan tingkat tinggi Negara-negara Asia Tenggara di Singapura terkait penanganan krisis Rohingya.

Baca juga, Pence Kritik Suu Kyi Atas Kebijakan Terhadap Muslim Rohingya.

Selain mereka yang tiba di Bangladesh tahun lalu, sekitar 200 ribu warga Rohingya lainnya juga telah melarikan diri dari Myanmar selama gelombang kekerasan dan penganiayaan sebelumnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA