Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Hindu Garis Keras Tekan Modi Bangun Kuil di Tanah Sengketa

Senin 26 Nov 2018 13:39 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Prime Minister Narendra Modi (file photo)

Prime Minister Narendra Modi (file photo)

Foto: AP/Altaf Qadri
Kelompok Hindu garis keras menghancurkan masjid di sebelah utara India pada 1992.

REPUBLIKA.CO.ID, LOCKNOW -- Sepuluh ribu penganut agama Hindu garis keras menggelar unjuk rasa meminta dibangunnya kembali kuil Hindu di sebelah utara India. Kelompok Hindu fundamentalis menghancurkan sebuah masjid pada Desember 1992 karena menurut mereka masjid tersebut dibangun di atas puing-puing kuil tempat lahirnya Dewa Ram. 

Kelompok garis keras tersebut menekan Perdana Menteri India Narendra Modi untuk segera memenuhi janjinya. Pada pemilihan perdana menteri tahun 2014 Modi berjanji akan membangun kembali kuil kelompok garis keras tersebut.

Janji ini yang membuat banyak penganut Hindu garis keras memilihnya dan membawa ia ke kursi perdana menteri. "Penganut agama Hindu sudah menungggu begitu lama, mereka kehilangan kesabaran, ini saatnya untuk pemerintah melakukan sesuatu," kata ketua komite tanah yang bersengketa tersebut, Mahant Nritya Gopal Das kepada pengunjuk rasa, Senin (26/11).

Baca juga, Kelompok Hindu Radikal Tegaskan Dominasi Hindu di India.

Ribuan polisi dan pasukan paramiliter dikerahkan ke Ayodhya, sekitar 550 kilometer dari New Delhi.  Para pengunjuk rasa membawa Pandita dan aktivis ke Ayodhya.

Penganut agama Hindu di sana percaya Dewa Ram lahir di kuil tersebut. Para pengunjuk rasa meneriakkan permintaan mereka untuk dibangunnya kembali kuil tersebut.

Mereka juga memasang banner yang bertuliskan  'Tidak ada lagi permintaan, kini saatnya untuk perjuangan'.  Partai koalisi pemerintah Partai Shiv Sena meminta pemerintahan Modi untuk membawa persoalan ini ke legislasi agar kuil tersebut dapat segera dibangun.

Mahkamah Agung India menunda perintah pembangunan kuil tersebut karena akan didirikan di atas tanah sengketa antara penganut agama Hindu dan Muslim.

Ketua Partai Shiv Sena, Uddav Thackeray mengatakan jika kuil itu tidak dibangun kembali maka Modi tidak akan bisa kembali menjadi perdana menteri.  "Perdana menteri harus memilih antara kuil dan pemerintahan," katanya.

Kelompok Hindu garis keras menghancurkan sebuah masjid dengan kapak dan linggis pada Desember 1992. Mereka yakin masjid itu dibangun di atas kuil yang didedikasi untuk Dewa Ram sebelum warga Muslim menyerbu Ayodhya.

Penghancuran masjid yang bernama Babri ini menciptakan kerusuhan di seluruh India yang menewaskan lebih dari 2000 orang. Ribuan orang tewas atas sengketa di tempat suci tersebut.

Persoalan ini sudah dibawa ke pangadilan. Pada 2010 pengadilan memutuskan tanah tersebut harus dipisahkan menjadi tiga bagian. Dua untuk penganut agama Hindu dan satu lagi untuk agama Islam. Keputusan ini dibanding ke Mahkamah Agung tapi sampai saat ini belum ada keputusan di pengadilan tinggi tersebut.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA