Kamis, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Kamis, 20 Sya'ban 1440 / 25 April 2019

Cina Sita 1,5 Miliar Dolar AS dalam Kasus Pinjaman Online

Selasa 19 Feb 2019 15:49 WIB

Rep: Adinda Pryanka / Red: Budi Raharjo

Fintech Lending. Ilustrasi

Fintech Lending. Ilustrasi

Foto: Google
Skema peer to peer lending (P2P) semakin berisiko dan penuh dengan keluhan.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Kepolisian Cina telah menyelidiki 380 pemberian pinjaman dan membekukan aset senilai 1,5 miliar dolar AS. Pemeriksaan ini menyusul banyaknya skandal dalam industri besar yang belum diatur secara maksimal, menurut pemerintah setempat pada Senin (18/2)

Beijing memungkinkan industri keuangan swasta berkembang dalam memasok kredit kepada pengusaha dan rumah tangga yang tidak terlayani oleh sistem perbankan milik pemerintah. Tapi, kebijakan ini menjadi ancaman tanggung jawab Partai Komunis yang berkuasa setelah kebangkrutan dan kasus penipuan memicu protes serta keluhan pada para investor ‘kecil’.

Dikutip dari AP News, Selasa (19/2), pihak kepolisian menyebutkan, pihaknya meluncurkan penyelidikan karena skema peer to peer lending (P2P) semakin beresiko dan penuh dengan keluhan. Baik itu dari segi penipuan, kesalahan dalam pengelolaan, rencana invstasi palsu, penggunaan taktik ilegal untuk mengumpulkan uang hingga pemborosan.

Pemerintah tidak memberikan rincian mengenai jumlah penangkapan. Tapi, mereka menyebutkan, setidaknya lebih dari 100 eksekutif sedang dicari oleh penyelidik dan beberapa di antaranya telah melarikan diri ke luar negeri. Pihak berwenang juga menyita atau membekukan 1,5 miliar dolar AS, tanpa memberikan indikasi berapa banyak yang akan dikembalikan ke depositor.

Pihak kepolisian hanya mengatakan, beberapa pemberi pinjaman dan media invstasi melakukan kecurangan. Sementara, lainnya bangkrut setelah pendiri yang tidak berpengalaman gagal dalam mengelola risiko.

Pinjaman melalui platform online tercatat tumbuh tiga digit setiap tahun hingga 2017, ketika regulator memperketat kontrol. Pada 2018, total pinjaman yang diberikan depositor atau peminjam mencapai 280 miliar dolar AS. Jumlah tersebut turun 50 persen dari 2017, menurut Institut Riset Keuangan Internet Shenzhen Qiancheng.

Sementara itu, menurut situs Diyi Wingdai, pinjaman yang beredar mencapai 177 miliar dolar AS pada akhir 2018. Nominal ini turun 25 persen dari tahun sebelumnya.

P2P lending merupakan bagian dari industri keuangan Cina yang dikelola swasta. Regulator bank nasional memperkirakan, skema ini tumbuh menjadi 1,5 triliun dolar AS pada 2015.

Internet diketahui telah membantu platform keuangan menarik uang dari ‘pemula’ keuangan dengan sedikit pengetahuan mengenai risiko yang ada. Banyak di anatara mereka meminjamkan ke pabrik dan pengecer atau berinvestasi di restoran, pecucuan mobil dan bisnis lain. Tapi, kurangnya pengalaman dan kontrol risiko yang buruk membuat penurunan kondisi bisnis dan bangkrut.

Secara keseluruhan, sistem keuangan di Cina mendapat pengawasan ketat pada 2015. Kala itu, terjadi penurunan harga saham yang menimbulkan tuduhan perdagangan pihak dalam dan pelanggaran lain.

Dalam salah satu penipuan keuangan terbesar di Cina, pihak berwenang menyebutkan, kasus pinjaman online Ezubo. Para peminjam kehilangan 7,7 miliar dolar AS, sebelum platform tersebut disita oleh regulator pada 2015. Dua tahun setelahnya, pendiri dan saudaranya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA