Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Tangis di Lokasi Penembakan Selandia Baru

Sabtu 16 Mar 2019 06:25 WIB

Rep: Rizkyan adiyudha/ Red: Esthi Maharani

 Anggota masyarakat yang berduka duduk di tepi jalan setelah penembakan yang mengakibatkan banyak kematian dan cedera di Masjid Al Noor di Deans Avenue di Christchurch, Selandia Baru, (15/3 2019).

Anggota masyarakat yang berduka duduk di tepi jalan setelah penembakan yang mengakibatkan banyak kematian dan cedera di Masjid Al Noor di Deans Avenue di Christchurch, Selandia Baru, (15/3 2019).

Foto: EPA-EFE/Martin Hunter
Dunia harus tahu bahwa para korban adalah orang-orang terpuji dan peduli pada sesama

REPUBLIKA.CO.ID, CHRISTCHURCH — Simpati datang dari seluruh dunia ketika penembakan brutal terjadi di dua masjid wilayah Christchurch, Selandia Baru. Tidak terkecuali warga negara Australia yang datang dari Kota Gold Coast, adalah Tory Dravitzki yang tak kuasa menahan tangis saat meletakkan bunga di lokasi penembakan.

Saat diwawancarai oleh media televisi setempat, Tory mengaku baru pertama kali mengunjungi masjid tersebut dan wajahnya tampak sangat emosional melihat masjid hasil penembakan brutal.

“Terlalu banyak (kondisi parah pascapenembakan), aku tak sanggup (melihat lebih lama),” kata dia yang mengaku sempat tinggal di Christchurch.

Alasan Tory meletakkan bunga di lokasi penembakan, adalah untuk memperlihatkan pada dunia bahwa tidak perlu ada yang ditakuti lagi dan ia ingin agar orang-orang juga berani melakukan hal serupa. Tory mengatakan, seluruh dunia harus tahu bahwa para korban adalah orang-orang terpuji yang benar-benar peduli pada sesama.

“Saya tidak ingin berurusan lagi dengan intoleransi terhadap muslim," kata Tory.

Muslim Australia sendiri, telah diperingatkan untuk ekstra hati-hati, setelah berita penembakan yang membantai puluhan orang oleh teroris di Selandia Baru, tersebar luas. Presiden Muslim Australia, Rateb Jneid, mengatakan pembantaian di Selandia Baru adalah produk dari Islamofobia yang semakin meningkat dan akibat dari marginalisasi umat Islam. Dr Jneid mendesak  semua pemerintah negara bagian Australia, untuk memberikan perhatian ekstra pada kebangkitan sentimen dan ekstremisme antimuslim.

“Polisi telah meningkatkan patroli. Lalu para pejabat senior juga telah bertemu dengan masyarakat dan pemimpin agama di seluruh negara bagian, untuk memberikan dukungan dan jaminan,” kata seorang juru bicara pemerintahan dalam keterangannya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA