Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Pelaku Penembakan Selandia Baru di Luar Radar Intelijen

Senin 18 Mar 2019 19:21 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Teror Masjid Christchurch. Brenton Tarrant (wajahnya disamarkan) tampil di sidang atas pembunuhan massal di dua masjid di Christchurch, Ahad (16/3).

Teror Masjid Christchurch. Brenton Tarrant (wajahnya disamarkan) tampil di sidang atas pembunuhan massal di dua masjid di Christchurch, Ahad (16/3).

Foto: EPA
Tarrant tidak masuk daftar orang yang harus diawasi di Selandia Baru dan Australia.

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Juru bicara Australian Federal Police (AFP) mengkonfirmasi Brenton Tarrant yang membunuh 50 jamaah dua masjid di Christchurch, Selandia Baru belum pernah terdeteksi sebagai ekstremis sayap kanan. Tarrant merupakan warga negara Australia yang besar di Grafton, sebuah kota kecil yang terletak 500 kilometer sebelah utara Sydney. 

"Polisi di Australia tidak tahu perilaku ekstremis dan kejahatan serius laki-laki ini," kata juru bicara AFP tersebut kepada Aljazirah, Senin (18/3).

Ada tiga orang yang ditangkap atas penembakan yang juga melukai puluhan orang tersebut. Tapi kini polisi mengatakan Tarrant melakukan kejahatan yang disiarkan secara langsung di Facebook itu seorang diri. Tarrant sudah didakwa satu pembunuhan tapi kepolisian Selandia Baru yakin dakwaan lain akan menyusul.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison menggambarkan Tarrant sebagai seorang 'ekstremis, sayap kanan, dan teroris kekerasan'. Tarrant mengungkapkan kekagumannya terhadap kekerasan nasionalis kulit putih dan ia berniat menciptakan atmosfir ketakutan di komunitas Muslim.

Mantan wali kota Christchurch Bob Parker mengatakan belum diketahui pasti apakah badan keamanan Selandia Baru mengetahui ancaman Tarrant atau tidak. Menurut Parker hal itu yang menjadi pertanyaan terbesar peristiwa ini.

"Tampaknya ada informasi dalam jumlah besar yang diunggah ke internet beberapa saat sebelum penyerangan terjadi, dan tidak ada alarm yang berbunyi di tempat yang tepat," kata Parker.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern juga mengakui Tarrant tidak berada di dalam daftar teroris atau orang yang harus diawasi. Tarrant tidak masuk dalam daftar tersebut baik di Selandia Baru maupun Australia.

"Apa yang saya cari tahu dari badan keamanan selanjutnya ada apakah ia memang harusnya dimasukkan atau tidak," kata Ardern.

Sebelum Jumat (15/3) lalu warga Grafton, kota tepi sungai Australia mengenal Tarrant sebagai orang yang terobsesi dengan kebugaran dan berasal dari keluarga terpandang. Laki-laki berusia 28 tahun itu sekolah di SMA Negeri Grafton lalu menjadi pelatih di gym setempat.

Tracey Gray yang mempekerjakan Tarrant pada 2009 mengatakan ia cukup berdedikasi. Lalu ayahnya yang dikenal sebagai orang terpandang meninggal dunia. Tarrant yang mendapatkan warisan langsung berkeliling dunia sebelum akhirnya menetap di Selandia Baru.

"Saya pikir ada sesuatu yang mengubahnya selama perjalanannya selama beberapa tahun di luar negeri," kata Gray.  

Tarrant mengunggah sebuah manifesto ke internet sebelum melakukan penyerangan. Manifesto tersebut penuh berisi slogan-slogan supremasi kulit putih.

"Asal bahasa saya Eropa, budaya saya Eropa, keyakinan politik saya Eropa, filosofi saya Eropa, identitas saya Eropa dan yang paling terpenting darah saya Eropa," tulis Tarrant dalam manifesto yang setebal 74 halaman.

Manifesto tersebut juga dengan dipenuhi ucapan anti-imigran dan ideologi neo-fasis. Ia menggambarkan dirinya sebagai laki-laki kulit putih biasanya. Ia berspekulasi akan dipenjara selama 27 tahun seperti Nelson Mandela dan dianugrahi Nobel Perdamaian.

Menjawab pertanyaannya sendiri Tarrant mengatakan orang yang paling mempengaruhinya adalah pengamat dan komentator konservatif Amerika Serikat Candece Owens. Owens seorang perempuan kulit hitam yang dikenal sebagai pendiri Turning Point USA, kelompok advokasi konservatif.

Owens dikenal sebagai pendukung Presiden AS Donald Trump. Ia kerap mengkritik Partai Demokrat dan gerakan hak sipil Black Lives Matter.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA