Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Korut Yakin Donald Trump Mau Ringankan Sanksi

Selasa 26 Mar 2019 15:59 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Lokasi Nuklir Korut

Lokasi Nuklir Korut

Korut menyatakan hal yang positif tentang Trump.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Media Korea Selatan melaporkan Korea Utara (Korut) yakin Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump masih terbuka untuk meringankan sanksi terhadap mereka. Hal itu dengan syarat ada klausul 'snapback' yang mengembalikan sanksi tersebut jika Korut kembali melakukan aktivitas nuklir.

Ungkapan itu adalah pernyataan baru dalam konferensi pers 15 Maret lalu yang dilakukan Menteri Luar Negeri Korut Choe Son Hui. Dalam konferensi pers tersebut Choe mengatakan selama pertemuan kedua dengan Pemimpin Korut Kim Jong-un di Hanoi Trump memiliki 'posisi yang fleksibel' dalam isu ini.

Namun pada Selasa (26/3), kantor berita Yonhap, melaporkan Korut merasa Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton 'menciptakan penghalang'. Pertemuan kedua di Hanoi tidak menghasilkan apa pun.

Tapi Korut tetap mengucapkan hal-hal yang positif tentang Trump. Choe mengatakan hubungan antara kedua pemimpin negara masih sangat baik dan 'keterikatan mereka secara misterius sangat luar biasa'.

Laporan berita pada 15 Maret tidak menyebutkan Choe mengucapkan Trump fleksibel dalam meringankan sanksi Korut jika mereka menyediakan klausul 'snapback'. Tidak ada penjelasan mengapa pernyataan ini ditambahkan.

Pada Jumat, Trump mengatakan ia memutuskan untuk menentang sanksi baru berskala besar terhadap Korut atas program senjata nuklir mereka. Hal itu sudah ia tekankan sejak pertemuan pada 27-28 Februari lalu.

Pemerintahan Trump kerap mengatakan mereka bersedia untuk melakukan pertemuan kembali dengan Korut. Tapi sejak pertemuan Hanoi tidak ada komunikasi baru antara Washington dan Pyongyang.

Dalam pernyataan baru ini Choe mengkritik Pompeo dan Bolton dengan mengatakan kedua pejabat tinggi pemerintah AS itu menciptakan halangan dalam negosiasi konstruktif antar-kedua pemimpin negara. Sesuatu yang disebabkan karena 'sikap permusuhan dan ketidakpercayaan sebelumnya'.

Pada waktu itu Bolton mengatakan pernyataan Choe 'tidak akurat'. Pernyataan baru ini juga menyebutkan Kim menghadapi banyak tantangan dan pertentangan dari Korut untuk mengikuti pertemuan di Hanoi.

"Rakyat kami, terutama militer dan industri amunisi kami mengatakan kami tidak boleh menyerahkan kemampuan nuklir kami," kata Choe, seperti dikutip Yonhap.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA